Cara Mengatur Waktu ala Puteri Indonesia

@romiyooo / Senin, 25 April 2016

Source: Google

Ada dua jenis waktu, monokronik dan polikronik. Monokronik adalah orang yang sangat taat tentang waktu, orang yang menghargai waktu. Biasanya, orang-orang monokronik bikin semacam jadwal kesehariannya gitu. Misal, jam 7 pagi bangun, jam 8 sarapan, jam 9 malem lebih 20 menit ngangenin mantan yang udah bahagia sama pacarnya. Nah, kebalikannya, orang polikronik menganggap bahwa waktu bisa kembali. Biasanya kebanyakan bilang “ah, besok juga bisa,” tapi mereka lebih mementingkan kegiatannya. Contohnya, lagi asik nulis Sayapbesi.com sampe lupa waktu, eh nggak tidur (Ini curhatannya @AnakPetir). Kalau gue emang nggak terlalu pandai mengatur waktu, dan mungkin cenderung polikronik sih. Tapi padahal kalau bisa seimbang yah, jadi mengatur waktu dan kegiatan sehari-harinya tetap menyenangkan.

Nah, kebetulan tanggal 23 April 2016 kemarin, ada acara peluncuran buku keduanya Zivanna Letisha (Puteri Indonesia 2008) yang judulnya “Trik Juara Mengatur Waktu”. Gue sebenernya diajak sama orang yang ngaku sebagai manusia terganteng keempat setelah Nabi Yusuf, Nabi Muhammad, sama Nabi Isa, dia adalah...... Galih Hidayatullah (@mas_aih). Datanglah gue ke acara peluncuran buku itu yang ternyata tempatnya ada di kantor BukaLapak. Yeaaay, gue dateng ke kantor yang katanya asik banget itu. Sampai di kantor BukaLapak jam 14.35, dan acaranya belum mulai. Tapi kata Galih suruh buru-buru, kan setan. Ternyata ada Birong (@ardhibirhonx) dan Satria (kasatkusut) juga yang dateng, sama beberapa temen-temen mereka sih cuma gue nggak kenal.



Dan acaranya dimulai, mbak MC yang lucu dan ternyata adalah temennya Galih, membuka acara dengan baik (untuk Galih, kenalin ke MC-nya dong....). Gue duduk di podium paling atas jadi bisa ngeliat ke semua penjuru arah. Mbak Zizi (Zivanna) bening amat deh, pinter pula, ya pantes sih jadi Puteri Indonesia pas 2008 kemarin. Lalu, mbak Zizi mulai menceritakan kenapa dia membuat buku ini. Karena biasanya orang-orang kurang menghargai waktu, padahal ketika kita tidak punya apapun, kita masih punya sesuatu yang tak pernah ternilai, waktu. Jadi, jangan buang waktumu untuk mengingat kenangan yang tak mungkin bisa terulang, bersama dia.



Lalu, setelah memberikan pencerahan secerah wajahnya, mbak Zizi duduk, dan giliran CEO BukaLapak atau yang biasa disapa Mas Zaky memberikan beberapa petuah. Bagaimana cara dia membangun BukaLapak yang dari awal hanya ada beberapa karyawan yang seminggu masuk, seminggu kemudian ngilang. Atau ada karyawan yang menipu Mas Zaky. Ternyata perjuangan untuk membuat hal besar selalu dilalui dengan tantangan, karena tanpa ada tantangan, kita tidak bisa menjadi lebih hebat (hestek: #YaAlloh #RomiBijakBanget).



Sampailah ke sesi tanya jawab. Sebenernya gue pengiiiin banget nanya, tapi nggak tau harus nanya apaan. Gue sampe minta ke Galih sama Birong buat bikinin pertanyaan, tapi mereka juga bingung pertanyaan apaan. Jadilah gue nggak nanya. Tapi beberapa yang dateng pada nanya tuh. Misalnya, ada yang nanya “Siapa sih supporter paling hebat buat mbak Zizi?”, lalu mbak Zizi menjawab “Keluarga dan sahabat pasti, tapi diri sendiri adalah supporter yang paling hebat,”. Gue langsung jawab dalam hati “Gokil!”. Ada juga yang nanya “Gimana sih caranya ngebagi waktu nulis?” atau “Mbak Zizi kan bukunya non-fiksi semua, ada rencana bikin buku fiksi?” dan masih banyak lainnya. Beberapa juga nanya ke Mas Zaky kok, dan doi tetep menjawab dengan santai tapi bermanfaat banget. Gue suka nih gayanya Mas Zaky, kasual tapi tetep elegan.
Akhirnya acara ditutup dengan penyerahan simbolik dan sesi tanda tangan serta foto bareng mbak Zizi. Gue foto dong sama mbak Zizi (hestek: #Seneng). Tapi agak minder sih saat foto, soalnya mbak Zizi tinggi banget sedangkan gue ala kadarnya gini. Ibaratnya nih, Aqua 1 liter disandingin sama obat tetes mata. Huhuhu.




Kalian yang termasuk monokronik ataupun polikronik mending baca bukunya mbak Zizi ini deh. Soalnya ngebantu banget untuk merubah mindset kita tentang betapa berharganya waktu. Gue aja nyesel kenapa baru sekarang mulai peduli tentang waktu gue. Tapi penyesalan kan nggak akan ngerubah apapun, jadi mending ubah sesuatu yang sekarang dan yang akan datang. Dan ya, akhir kata “Jangan sia-siakan waktu, karena kamu sudah pernah merasakan betapa pedihnya disia-siakan dia.”


#LingkarTulisan "Nomor Dua Puluh" [FINAL]

@romiyooo / Jumat, 15 April 2016


Tiga Bulan Kemudian

***
Selama ini gue pikir keajaiban itu cuma mitos. Sampe akhirnya sekarang gue ngeliat sendiri apa yang gue alamin tiga bulan terakhir. Sejak pertama kali denger dari Pak Ben tentang pemindahan kepemilikkan deretan ruko yang salah satu di antaranya adalah warnet gue, jujur aja gue bingung harus gimana. Bisa dibilang beberapa malem sesudahnya yang ada di pikiran gue cuma dia. Bukan, bukan Pak Ben atau pemilik kontrakan baru melainkan nasib warnet ini. Tempat gue ngabisin hampir separuh hidup gue empat tahun terakhir. Tempat gue nerapin ilmu komputer seadanya yang gue dapet pas kuliah meski cuma sampe semester 5. Tempat gue bisa ketemu dan kenal banyak orang yang udah gue anggep temen, sahabat, bahkan keluarga sendiri.

Gue masih inget kejadian kira-kira sebulan lalu pas warnet lagi sepi, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu paruh baya yang masuk.

“Selamat siang!” sapa ibu itu dengan suara kalem.

“Eh, iya. Siang Bu. Bisa dibantu?” gue yang saat itu lagi asik ngebales WhatsApp dari calon pembeli komputer berikutnya sempet kaget juga. Yaiyalah, emaknya siapa coba ni gaul banget main ke warnet siang bolong.

“Kamu pemilik warnet ini?” tanya si ibu kalem, kali ini sambil tersenyum.

“Betul Bu, saya Naldo. Ada apa ya kalo boleh tau?” tanpa bermaksud alay dengan pertanyaan gue ke dia, sebenernya kepo juga liat si ibu kalem ini yang sejak tadi tampak misterius.

“Saya Laras, istri dari mendiang Pak Kartono, pemilik deretan ruko di sini,” si ibu kalem memperkenalkan dirinya dengan tenang, kebalikan dari gue yang mendadak senewen campur deg-degan menerka-nerka maksud kedatangannya. Jujur aja saat itu gue masih belum siap ngadepin worst case dalam bentuk harus pindah.

“Oh iya Bu, ada apa ya?” ketiga kalinya ngasih pertanyaan serupa dan seketika gue merasa bodoh-banget-seolah-namanya-juga-cuma-kang-warnet.

To the point aja ya Naldo, maksud kedatangan saya ke sini mau kasih tau bahwa saya ada rencana sedikit melakukan perubahan dengan renovasi di beberapa ruko yang keliatannya mulai usang. Mungkin nantinya kalo kamu berminat bisa sekalian rombak warnet ini dengan split ruangan jadi smoking dan nonsmoking. Gimana menurut kamu?” si ibu kalem tiba-tiba mencerocos dan mengiming-imingi gue yang lagi galau ini dengan tawaran menarik.

Singkat cerita gue dikasih waktu tiga hari untuk memberikan jawaban. Tentu aja gue bilang iya untuk rencananya itu, dengan tiga alasan. Satu, renovasi dilakukan serempak di waktu yang ditentukan bersama sehingga masing-masing ruko tidak perlu tutup dalam waktu lama. Dua, tidak ada  kenaikan biaya sewa. Tiga, yang paling mengejutkan, Bu Laras ternyata adalah mamanya Nana. Iya, Nana si cewe cempreng. Tidak hanya itu, Nana ternyata memiliki saudara kembar yang sejak lahir terpisah. Dialah “Meriva” gue, Nada. Pantesan dulu pas gue liat foto profil blog Nana terkesan familiar.

See, apa gue masih berani bilang keajaiban itu mitos?

Suatu hari pas proses renovasi berlangsung, Bu Laras datang ditemenin kedua anaknya yaitu Nana dan Nada. Gue kaget. Mereka apalagi.

“Naldo, kenalin ini anak-anak saya. Mereka kembar, yang ini Nana dan di sebelahnya itu Nada,”gue yang lagi serius ngeliatin proses kerja bareng bang mandor langsung pucet pas liat dia, sosok mungil berkacamata dan berambut pendek yang dulu pernah hadir di masa lalu. Dia, “Meriva” yang selama ini hidup di blog gue, saat ini berdiri di hadapan gue dan terlihat sedikit terkejut juga. Dia, Nada Ilvy Meriva.

“Apa kabar, Naldo?” ah, senyum itu.

Halo, kenalin nama gue Naldo. Panggil aja GagalMoveOn.

“B…baik Nada,” hanya itu yang bisa keluar dari mulut gue saat itu. Meski dalam hati gue bertekad kehadiran Nada di hari-hari berikutnya akan membuat semuanya jauh lebih baik lagi.

Untuk kali ini gue setuju dengan quote alay yang sempet jadi DP BBM Bang T-J waktu itu yang bilang kalo cinta itu bagai pasir di pantai, semakin kuat kita genggam maka justru akan semakin terlepas.” Iya, kadang quote semacam itu ada benernya juga.

Gue yakin, ini semua terjadi agar gue bisa ngejalanin hari-hari dengan lebih baik lagi. Meskipun hidup nggak seperti film Disney yang selalu berakhir bahagia, tapi seenggaknya, jika gue nggak punya akhir yang bahagia, gue bisa bahagia saat ini. Gue masih selalu berharap ada orang tua yang bisa memberikan gue nasihat tiap malam, menyemangati saat gue dalam kesusahan, dan memberikan kasih sayang yang udah lama nggak gue dapatkan.


***

Gue nggak tau harus seneng atau sedih sama apa yang baru aja melanda hidup gue di tiga bulan terakhir. Bokap yang sejak lahir ke dunia ini nggak gue kenal kaya apa ternyata menyapa gue dalam bentuk lembaran surat wasiat dan pesan terakhir.

“Mendiang Pak Kartono meminta saya memberikan surat wasiat ini kepada Ibu Laras dan Mbak Nana sesuai permintaan terakhir beliau sebelum meninggal dunia,” gue masih inget kata-kata pengacaranya bokap saat itu.

“Selain rumah yang selama ini beliau tempati, beliau juga mewariskan deretan ruko yang terdiri dari warnet, minimarket, dan beberapa kedai makanan. Khusus untuk ruko hak warisnya dibagi tiga yaitu untuk Ibu Laras, Mbak Nana, dan putri beliau yang satunya, Mbak Nada. Kebetulan dia sekarang kerja di Bandung jadi tidak bisa hadir,

(((putri beliau satunya)))

Gue cuma melotot kaget ke si pengacara sebelum gue liat nyokap di sebelah gue yang berkaca-kaca kelihatan banget menahan emosinya.
“Ma…”

“Iya, Na. Mama minta maaf. Sebenernya kamu punya saudara kembar, namanya Nada,  tapi saat itu kami sepakat bahwa dia akan ikut dengan Papamu. Maafin Mama yang udah nggak jujur sama kamu,

Saat itu gue bengong sambil menenangkan nyokap yang menangis histeris di pelukan gue. Selama ini gue masih punya bokap dan gue bukan anak tunggal.

Kecewa, marah, sedih, seneng, entah gimana perasaan gue saat itu.

Satu hal yang gue tau harus lakuin adalah, kasih tau ini semua ke Naldo selaku salah satu pemilik warnet yang ada di ruko bokap.

Pagi itu gue nggak jadi ngomong ke Naldo karena tau-tau ada Rian. Dia operator malem di warnet Naldo yang belakangan emang kita lagi deket banget. Mungkin kita sama-sama nyaman satu sama lain tapi ya entahlah, gue nggak berani mengharap apa-apa juga selama dianya nggak ada ngomong apa-apa.

Perlahan gue dan Nada mulai deket dan sumpah demi apa ternyata kakak-selisih-sepersekian-menit gue ini adalah mantannya Naldo. Gue penasaran sih apa Nada tau kalo selama ini dia adalah tokoh utama di balik kegalauan Naldo. Ha!

Gue masih sering main sama Meriva, si nomer dua puluh yang keukeuh banget nggak bakal dijual sama Naldo. Meski sebenernya sekadar modus aja sih biar ketemu Rian. Ya, biar gimana pun juga berkat dia dan warnet inilah gue bisa ketemu dan ngalamin banyak perubahan dalam hidup gue.

Well, semua yang terjadi emang nggak pernah ada di bayangan gue sama sekali bahkan kepikiran aja nggak. Tapi mungkin kadang di situ enaknya ngejalanin hidup, nggak terlalu pusing mikirin mau ini itu.

Gue bahagia dan bersyukur dengan hidup gue saat ini. Itu aja rasanya cukup. Dan gue percaya, selalu ada rentetan keajaiban di dalam harapan. Selalu ada datang setelah pergi. Selalu ada. Bentar, kenapa gue jadi bijak?!

***

Banyak hal yang berubah selama tiga bulan terakhir. Perubahan yang mungkin awalnya tidak sesuai dengan keinginan namun tetap harus dijalani. Tentang deretan ruko yang ternyata tidak jadi dibongkar bahkan justru direnovasi besar-besaran oleh sang pemilik baru. Tentang warnet Naldo yang kini diperluas karena dibagi menjadi dua area, smoking dan nonsmoking. Tentang aku yang tidak lagi menjadi komputer operator tetapi kembali ke posisi awalku yaitu si nomor dua puluh di pojok ruangan, dengan nama baru yaitu Meriva. Tentang Naldo dan Nana yang menemukan (kembali) cintanya lewat potongan kisah di blog melalui sosok komputer pemikir dan melankolis. Tentang masa lalu yang tiba-tiba datang menyergap dan masa depan yang seolah terlihat mengintip malu-malu.

Awalnya aku pikir mengenal manusia itu sebatas memahami bahwa mereka memang (akan) datang dan pergi begitu saja. Kedatangan yang tidak selalu diharapkan serta kepergian yang tidak perlu disesalkan. Sampai ketika aku merasa memiliki ikatan dengan mereka. Mungkin bisa dibilang aku terlalu berlebihan, tetapi memang sedikit banyak ada semacam kehausan dalam diriku akan kehadiran mereka setiap harinya. Entah apa ini yang dinamakan dengan ketergantungan.

Awalnya aku bersikap biasa saja dengan mereka yang datang mengisi kekosonganku. Mereka yang berusaha memuja eksistensi, mencari pemuas fantasi, atau mengenal diri tidak hanya dari satu sisi. Sampai aku bertemu dengan orang-orang yang seolah mengajakku ikut merasakan apa yang mereka alami, meski hanya dalam hitungan menit atau jam. Mereka mengizinkanku melihat kekecewaan, kesedihan, kebahagiaan, apapun rasa yang mereka punya lewat mata yang selalu menatapku.

Awalnya aku kira Nana dan Naldo adalah pasangan yang ditakdirkan oleh semesta hanya saja masih butuh waktu untuk saling menemukan. Terlalu banyak kebetulan yang rasanya membuatku tak sabar ingin melihat mereka berdua bahagia bersama. Sampai aku lupa bahwa menebak jalan takdir seseorang tidak semudah menebak jalan sinetron di layar kaca yang hampir tiap malam menjadi tontonan kesukaan Rian. Sampai aku lupa bahwa bahagia meski tidak bersama adalah jauh lebih baik daripada melihat mereka bersama namun tidak bahagia.

Siapa sangka, nama “Meriva” yang sering aku baca di blog Naldo tiba-tiba muncul begitu saja di hadapan dalam sosok nyata. Ia, si perempuan mungil berambut pendek dan berkacamata tidak hanya potongan kisah dari masa lalu Naldo, tapi juga salah satu putri pemilik ruko sekaligus adalah saudara kembar Nana yang terpisah sejak mereka lahir.

Pikiranku melayang ke potongan-potongan kejadian selama beberapa bulan terakhir di warnet ini.

Teringat pertama kali berjumpa dengan Pak Kartono yang saat itu tengah menahan beban teramat berat akibat vonis dokter tentang sakit kanker yang dideritanya sehingga ia harus “berpamitan” dengan istri dan kedua putri kembarnya melalui sebuah surat.

Teringat Nana dan Naldo yang masing-masing terbuai dengan rangkaian kata di blog, yang satu tenggelam dalam rasa penasaran dan kekaguman sementara yang lain sibuk merawat luka masa lalu.

Teringat kabar berpindahnya hak kepemilikkan deretan ruko yang membuat Naldo sempat gegabah dan terpaksa merelakan beberapa asset warnet terjual.

Ternyata selama ini semua bagaikan kepingan puzzle yang saling berhubungan satu sama lain.

Semuanya tidak hanya datang dan pergi.

Mereka (akan) berubah.

Kecuali aku yang selalu diam.

Menunggu siapapun datang, menemani, untuk selanjutnya merelakan mereka pergi.

Aku adalah komputer warnet si nomor dua puluh.

***

Hari ini tepat seminggu setelah warnet gue kembali beroprasi, gue menambahkan beberapa komputer baru, dan memasang jaringan internet lebih kencang. Pukul 8 pagi emang jadi waktu paling favorit gue, karena pengunjung belum ramai, bahkan kadang nggak ada, dan gue masih bisa menghisap Marlboro putih serta menyeruput kopi hitam di depan warnet.

Mobil Fortuner TRD Sport berwarna putih tiba-tiba berhenti di depan warnet gue. Nggak mungkin kan, orang bawa mobil sekeren itu mau main komputer warnet. Tunggu dulu, apa jangan-jangan itu adalah tim uang kaget yang akan ngasih gue uang 20 juta dan harus dihabiskan dalam waktu 10 menit? Ah kalau gitu gue bakal beli motor baru aja deh, tuker tambah sama motor lama. Ini kenapa gue malah mengkhayal.

Terdengar suara pintu mobil yang kebuka, tapi gue masih asyik berkutik dengan handphone gue. Gue masih scroll-scroll akun instagram-nya Pevita Pearce sama Chelsea Islan. Penyegaran di pagi hari lah. Lalu tiba-tiba, suara gagang pintu gerbang gue yang dibenturkan ke tiang gerbang, dan dari depan gerbang gue ngeliat dua orang ber diri di sana. Perempuan dan laki-laki. Lebih tepatnya, nyokap gue bersama seorang laki-laki. Gue terpaku. Gue cuma bisa diem ngeliat ke arah mereka. Rokok gue jatuh.

“Naldo, Ibu dan Ayah, pulang....”




“You can’t describe life. You just live.”





#LingkarTulisan "Nomor Dua Puluh" [8]

@romiyooo / Jumat, 08 April 2016



Warnet yang gue bangun ini ternyata sebentar lagi mau tutup, karena sewa tempat yang murah di sini akan diambil alih oleh ahli waris sang pemilik. Artinya, gue mau gak mau harus pindah atau tutup aja warnet ini. Gue nggak mungkin pindah karena harus nyari tempat yang pasti akan mahal banget, sedangkan budget dan lain-lain nggak bisa nutup itu semua. Sedangkan gue punya hutang yang banyak banget dari beberapa penagih hutang. Sebenarnya bukan hutang gue, tapi hutang Ibu gue yang sekarang sudah kabur entah ke mana. Ayah gue? Gue sendiri dari lahir nggak pernah lihat beliau, tapi kata Ibu gue, beliau masih hidup. Entahlah..

Banyak hal yang harus gue pikirin setelahnya. Bagaimana nasib gue nanti, bagaimana gue bilang ke Rian dan bang T-J, bagaimana dengan komputer-komputer yang ada, bagaimana dengan pelanggan setia gue, dan lain sebagainya. Gue kayak kehilangan kehidupan gue untuk kedua kalinya, setelah kehilangan Meriva adalah kehilangan yang pertama. Dan sekarang yang harus gue lakukan adalah ngobrol sama Rian dan bang T-J soal ini, dan ini adalah hal yang berat. Pagi ini yang biasanya gue udah bersemangat tapi harus mikirin bagaimana Rian yang masih kuliah dan bang T-J yang pendidikannya kurang harus mencari pekerjaan lainnya. Rian yang biasanya datang ke warnet ini hanya malam hari, terpaksa harus gue minta untuk dateng pagi ini, jam 8. Sedangkan bang T-J sudah nyeruput kopi hitam di kursi depan warnet.

“Gimana ya cara ngomongnya...” gue masih bingung harus mulai omongan ini dengan apa sama mereka berdua.

“Ada apa emang bos?” Bang T-J masih nyeruput kopinya.

“Join kopinya dulu dong bang,” gue malah tiba-tiba pengin ngopi ngeliat betapa nikmatnya bang T-J nyeruput kopi. Kemudian menyalakan sebatang rokok Marlboro putih, dan menghisapnya dalam-dalam.

“Kenapa sih, Do? Ada hal penting?” Tanya Rian.

“Jadi gini, warnet ini akan gue tutup,” Gue menghela napas panjang.

“Hah??” bang T-J muncratin kopinya.

“Aduh bang, ini kenapa muncrat ke gue kopinya???” Rian kena muncratan kopi yang sudah tercampur radiasi mulut bang-TJ.

“Hehehe, maaf bos maaf,” Bang T-J hanya mampu berucap maaf sambil mencoba membersihkan cipratan kopi di celana Rian yang sekarang sudah terkontaminasi. Untung gue lagi berdiri jadi sigap menghindari muncratan berbahaya itu.

“Oke oke, emang kenapa Do kok sampe tutup? Kita rugi? Atau ada apa?” Rian sudah mulai tenang, dan kelihatannya masih baik-baik aja walaupun gue yakin cipratan kopi itu udah meresap ke paha dia.

“Jadi, gue dapet kabar dari Pak Ben. Dia bilang, semua kios di sekitar sini akan diambil alih oleh ahli waris Pak Kartono yang baru meninggal. Gue sih penginnya pindah. Tapi budget gue nggak memungkinkan itu semua. Jadinya, gue berpikir untuk menjual semua aset warnet ini dan mungkin akan nyari kerjaan lain,” Gue mengatakan semua itu dengan sangat berat.

“Huhuhuhu,” Bang T-J tiba-tiba nangis.

“Nggak usah nangis bang, gue akan tetap kasih pesangon kok,” gue mencoba menenangkan beliau.

“Bukan gitu bos, kopi gue tumpah nih. Mana masih banyak lagi,” Bang T-J malah ngeributin kopinya yang ternyata tumpah nggak ketauan setelah dipindahin ke bawah kursi. Sialan.

“AH ELAH BANG!” Gue kesel.

“Huh, jadi sampe di sini aja nih Do? Gue padahal udah nyaman banget sih di sini,” Rian tampak sedih.

“Iya bro. Yah mau gimana lagi. Bukannya semua awal pasti punya akhir? Gue minta maaf banget nih ke kalian berdua,”

***

Sore ini gue beres-beres mulai hal-hal kecil dulu. Gue sekarang mempertimbangkan permintaan Nana yang ingin membeli komputer yang tadinya nomor dua puluh ini, yang sekarang gue namain dia Meriva. Iya, gue emang suka menamai barang-barang. Dan, karena komputer ini akan pergi dari hidup gue, maka gue akan menamai dia dengan nama yang sama. Oh ya, handphone gue bernama King, yang gue ambil dari anime One Punch Man. Karakter king di anime tersebut terlihat garang, padahal nggak bisa apa-apa. Gue namai printer yang ada di sini dengan Uncle. Selain karena udah tua, nama itu juga diambil dari film The Man from U.N.C.L.E, jadi gue namai itu. Gue suka menamai benda-benda karena gue orangnya cuek, jadi semoga dengan begitu, bisa bikin gue lebih peduli lagi untuk merawat mereka. 

Di saat-saat kayak gini, gue malah flashback tentang beberapa kehilangan yang telah gue alami. Kehilangan Ibu yang entah sekarang di mana, kehilangan Meriva, kehilangan pendidikan karena nggak bisa nerusin, kehilangan teman-teman yang sekarang mungkin udah sukses, dan lainnya. Gue selalu merasa bahwa kehilangan memang diperlukan dalam hidup, agar kita bisa lebih menghargai apa-apa saja yang akan kita dapati selanjutinya. Kehilangan memang selalu sulit, di awal. Tapi setelah kita mampu melewatinya, itu bisa menjadi pelajaran yang tak ternilai. Warnet ini salah satu kehilangan yang besar buat hidup gue. Gue tinggal di sini, mencari kehidupan baru di sini, mengenal orang-orang baru di sini, gue menjadi orang yang baru di sini. Tapi kayaknya gue harus menjadi hal baru lagi setelah ini, mungkin ini bertujuan agar gue bisa lebih bekerja lebih keras lagi.

“Do,” Tiba-tiba Rian merunyamkan lamunan gue.

“Kenapa?”

“Lo tau nggak, Nana yang biasanya dateng ke sini? Yang cempreng itu? Yang waktu itu sih dia bilang kalau pernah sekampus sama elo,” Rian bercerita tentang Nana.

“Iya, kenapa?” Gue penasaran.

“Sebenarnya, karena dia sering banget dateng ke sini pas shift gue, jadi kita banyak ngobrol,” Rian mulai merunutkan ceritanya.

“Oke, lanjut,”

“Nah, lama kelamaan, kita jadi deket. Kita bahkan tukeran nomor whatsapp. Intinya kita udah saling nyaman, sampe kemarin dia bilang mau pindah dari sini,” Raut muka Rian jadi sedih.

“Iya, kemarin siang dia dateng ke sini cerita begitu,” Gue makin penasaran.

“Jadi gini, sebenernya gue mulai suka sama dia, menurut lo gue harus tetep ngomong gue suka sama dia atau enggak yah?”

“Hah? Waaah, gokil. Kalo emang kalian udah sedeket itu, ya mending lo ngomong aja. Tapi kalo nantinya kalian jadian dan berpisah jauh, ya terima risikonya. Kalian. Akan. LDR. Hahahah..” Ini kenapa gue malah ketawa, padahal kan gue sama Meriva berpisah juga karena LDR.

“Lah, nanti gue jadi kayak elo dong ujung-ujungnya putus dan susah move on kayak sekarang. Hahaha. Tapi, kalo dipendem terus gue juga nggak mau sih, rasanya ada yang ngeganjel gitu,” Rian mukanya pengin gue tampol banget.

“Anjir lo! Ya mau gimana, lo harus terima konsekuensinya kalo lo ngomong dan kalo lo nggak ngomong,” Gue menyiapkan asbak untuk dilempar ke Rian.


“Iya sih... Yaudah deh, gue pikirin ini dulu sampe dia ngabarin kapan akan pindah, dan akan pindah ke mana,” Rian melengos pergi, gue gagal ngelempar asbak ke muka dia.

Hari ini benar-benar nggak produktif, gue cuma duduk nerima pelanggan, setelah itu beres-beres keperluan yang kecil-kecil dulu. Lalu malemya gue cuma nyiapin langganan internet yang akan gue putus sebulan lagi, nyari calon pembeli semua komputer ini kecuali si Meriva (nomor dua puluh), dan menghitung semua anggaran termasuk pesangon Rian dan bang T-J. Bahkan sekarang, lagi berbaring di kasur pun gue masih mikirin hal-hal ini, mau apa gue setelah ini, ngelamar pekerjaan? Dengan ijasah seadanya? Dengan kemampuan seadanya? Gue nggak tau harus apa. Gue hanya mampu memejamkan mata, berharap besok ada sebuah keajaiban. Yang walaupun gue sendiri nggak pernah percaya akan keajaiban. Menurut gue keajaiban hanyalah mitos, seperti kata “selamanya”. Keajaiban dan “selamanya” hanyalah mitos bagi gue.

***

Pagi ini gue membuka whatsapp dan beberapa calon pembeli komputer gue mulai menanggapi. Ada yang langsung setuju, ada yang pengin cuma beli 2 komputer aja, dan ada yang menawar dengan harga Afgan (sadis). Gue sih seneng, mulai membersihkan kompter ini satu per satu sebelum membuka warnet ini. Lumayan, beberapa hari sebelum ditutup warnet dibuka tetep rame dan bisa jadi tambahan uang. Tapi warnet ini jadi nggak buka 24 jam, karena jam 10 malam pasti gue tutup. Soalnya Rian udah mulai nyari job lain untuk tambahan uang kuliah dia. Bang T-J juga mulai gue cariin kerjaan baru, dia sih bilangnya mau jadi security. Jadi gue hubungi beberapa teman, dan dia hari ini ada 2 interview di Mall.

“NALDO....NALDO...” Terdengar teriakan cempreng yang nggak asing dari balik pintu warnet yang belum gue buka. “NALDOOOO LO DI DALEM NGGAK??” Yak, suara itu makin kenceng sembari diiringi gedoran pintu. “NALDOOOO BUKA IIIIHHHH...” Karena gue masih sayang telinga gue, gue buru-buru ngebuka pintu warnet ini, “BENTAR OOOY”. Belum gue buka suara itu kembali muncul “BURUAAAANNNN....”

“Ada apasih? Ah elah, ternyata elo! Kenapa ini pagi buta udah ke sini?” Gue bertanya dengan muka kesel.

“Gue punya kabar baik dan buruk. Yang berhubungan sama kita,” Nana mengejutkan gue dengan kata-katanya.

“Kita? Kenapa nggak elo aja sih sama bang T-J,” Gue masih kesel.

“GUE SERIUSSSS...” Nana berteriak.

“Ya udah, ke-“

“Eh, Nana, kok ada di sini?” Tiba-tiba Rian datang.


***


#LingkarTulisan "Nomor Dua Puluh" [6]

@romiyooo / Jumat, 01 April 2016





“Gue beri nama ini, Makhluk Penunggu Warnet...” Gue mulai bercerita.

“Hah?”

“Jadi, malem itu gue udah bersiap untuk menutup warnet ini, karena 2 hari besoknya adalah hari raya, maka warnet akan tutup...” Gue berhenti sejenak, menghela napas karena akan menceritakan sesuatu yang teramat menakutkan. Gue ambil teh depan gue dan melanjutkan “Semua udah sepi, pintu udah gue tutup, lampu udah sebagian gue matiin, cuma lampu depan warnet yang gue sisain buat nyala,” gue diem bentar karena belum apa-apa bulu kuduk gue merinding.

“Terus terus?”

“Gue berdiri di depan pintu warnet, mengingat-ngingat lagi apa yang belum gue periksa. Gue periksa-periksa lagi semua kunci yang ada di tangan gue. Gue bersiap untuk mengunci pintu terakhir itu, tapi....” Gue mulai menyeruput teh.

“Apa? APA? TAPI APA???”

“Tapi tiba-tiba, seluruh lampu di dalam warnet, nyala lagi. Gue terpatung, gue nahan napas, gue pipis di celana. Gue nggak berani tengok kanan atau kiri, gue natap lurus ke depan. Ke pintu berwarna hitam,” Gue menaruh cangkir teh kembali ke meja dengan sedikit bergetar, membayangkan kejadian itu.

“LALUUUU??”

“Masih terpatung, dengan tangan gemetar, guemencoba berpikir positif. Gue tarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan sambil merem. Belum sempat gue membuka mata, terdengar suara “Ceklek...” Gue langsung buka mata, mengira-ngira apa yang bunyi itu? Tikus kah? Kucing? Atau jangan-jangan.....”

“JANGAN JANGAN APA? MALING?”

“....atau jangan-jangan itu adalah suara, suara, suara dengarkanlah aku~ apa kabarnya~ pujaan hatiku~” Gue mendendangkan lagu Hijau Daun, lalu dikeplak.

“SERIUSAN IH!”

“Oke, iya iya. Terus gue beranikan diri memerhatikan sekitar, nggak ada apa-apa. Dan..... “Ceklek” suara itu ada lagi, pas gue tengok ke bawah, ternyata gagang pintunya, BERGERAK!” Gue sedikit berteriak saat ngomong bergerak, supaya mendramatisir.

“HAHHHHHH?”

“Perlahan tapi pasti, gagang pintu itu bergerak seperti mencoba membuka pintu tersebut, gue mundur perlahan. Gue mempersiapkan dua hal; kalau ini maling, gue akan nonjok langsung, kalau ini sesuatu yang lain, gue bersiap lari....”

“IIIHHH KAMU CEMEN!”

“Daripada gue pingsan, terus dibawa ke kahyangan dan akhirnya dipaksa menikah dengan makhluk itu. Lalu kami mempunyai keluarga bahagia, dan hidup dengan sejahtera?” Gue nyerocos aja.

“BODO! LANJUTIN!”

“Kemudian, “Ceklek” pintu itu perlahan-lahan mulai kebuka. Bunyi “ngiiikkkk” khas film horor mulai terdengar. Gue rasanya mau nangis aja waktu itu,” Gue ambil lagi teh buat nenangin diri.

“HAHAHAHAA!”

“Pas pintunya kebuka, nggak ada apa-apa. Gue terpatung lagi. Gue liat dalem warnet gue, nggak ada apa-apa. Tapi, semua komputer tiba-tiba menyala. Membunyikan ringtone “Deng deng deng deng..” Gue menirukan nada boot ala Windows.

“IIIIH AKU JADI MERINDING!”

“Kemudian, tiba-tiba terdengar suara aneh nggak tau dari mana asalnya,” Gue bercerita bisik-bisik supaya lebih dramatis.

“SUARA APA LAGI? AWAS AJA KALO SUARA DENGARKANLAH AKU!”

“HAHAHAHAH”

“MALAH KETAWA”

“Oke, jadi gue nggak tau suara itu dari mana, tapi lama kelamaan semakin kenceng. Suara itu seperti membisikan sesuatu. Sesuatu yang menyeramkan, sesuatu yang gue takutkan,” Gue menggeletakan cangkir teh gue lagi.

“Aku takut beneran nihhhh... :(“

“Suara itu semakin kenceng, dan terdengar jelas banget, suara itu berbunyi.... “BANGUN OY NALDO, UDAH SIANG NIH!” APRIL MOP! HAHAHAHAHA!” Gue mulai ambil ancang-ancang buat kabur.

“BELUM PERNAH DILEMPAR MEJA KAFE YAH?”

Gue pun dicubit, dikeplak, dijewer sama dia.

Dia; Meriva. Entah kenapa tanggal 1 April ini mengingatkan gue ke kejadian tadi. Adegan paling gue suka, duduk berdua bersama Meriva menceritakan segala hal penting dan gak penting agar waktu kita habis untuk berdua. Gue masih terlalu rindu suara kesel dia, suara tawa dia, dan tentu aja, senyum khas dia yang selalu membuat gue ikut tersenyum. Semua adegan demi adegan yang pernah gue lakukan bersama Meriva terasa diputar ulang di kepala gue. Gue masih inget banget kalimat dia saat pertama kali gue dan dia mengucapkan kata cinta bersama, “Jika suatu hari nanti kita tidak saling mencinta, aku harap itu adalah hari berpura-pura sedunia, dan kita sedang berpura-pura saja...”
Gue masih ngeliat layar komputer yang menampilkan potongan-potongan adegan gue bersama dia. Ketika kita memanjat gunung bersama, ketika kita ke pantai bersama, dan lainnya.

“Lagi galau ya?”

Lamunan gue akan Meriva tiba-tiba terpotong oleh suara cempreng yang padahal dia ngomongnya pelan. Suara itu berasal dari perempuan bernama Nana, yang ternyata kita udah kenal dari zaman kuliah, dan bertemu beberapa waktu lalu di warnet gue ini. Dunia sungguh sempit.

“Apaansih, mau april mop ya?” Gue mulai mengalihkan perhatian.

“Hahaha, lo itu orang periang, dan tiba-tiba diem natap layar komputer, pasti ada yang dipikirin. Galau? Atau jangan-jangan.....” Nana memotong kalimatnya.

“Jangan jangan?”

“Jangan jangan lo lagi nonton begituan yaaah? Hahahaha” Dia ketawa, dan cempreng.

“Anjir. Udah sanah masuk pilih komputer sendiri...”

“Ah, gue ke sini nggak mau main komputer kok,”

“Lah terus?”

“Gue mau nanya sesuatu,” Raut muka Nana berubah menjadi serius.

“Nanya apa?” Karena gue orangnya penasaranan banget, maka gue langsung nanggepin dengan serius juga.

Nana mengeluarkan handphone-nya, mengetik-ngetik, lalu dia nyodorin ke muka gue “INI BLOG ELO?” Dia teriak, tetep dengan ceemprengnya.

“HAHAHAHA”

“JAWAB!”

“Iyaaaa, kenapa? Alay ya? Jelek tulisannya ya?”

“Tulisan lo bagus, eh nggak maksud gue tulisan lo biasa aja, cuma gue penasaran sama pemilik blog ini aja sih. Tiap hari gue baca masaaaa,” Mata Nana menunduk, kakinya bergoyang, bibir bawahnya digigit. Ini adalah tanda-tanda wanita sedang malu.

“Wah, makasih yah. Ternyata gue punya fans. Besok bikin fanbase ah. Lo mau jadi ketuanya nggak, Na? Hahaha”

“BODO AMAT LAH, NALDO!”

“By the way,”

“Nggak usah sok inggris lo ah,” Nana memotong omongan gue.

“Hahaha, oke oke. Ngomong ngomong, lo ke sini cuma mau nanya itu?”

“Nggak sih, gue mau pamitan,”

“Pamitan?” Gue melongo.

“Iya, sama nomor dua puluh,”

“Nomor dua puluh?” Gue melongo.

“Iya, soalnya.... Bentar, lo bisa nggak sih nggak usah melong gitu?” Nana mengeluarkan kecemprengannya, kali ini 3x lipat lebih cempreng dari biasanya.

“Hahaha, maap maap,”

“Iya, soalnya kan hampir tiap hari gue kan di nomor dua puluh. Gue nulis, gue nyari sesuatu, gue makan, gue minum, gue apapun di situ,”

“Lo nggak punya rumah ya?”

“BUKAN GITU! Gue cuma nyaman aja di sana. Nggak tau kenapa,” Raut muka dia berubah menjadi bimbang.

“Oke, oke. Terus emang lo mau pamitan ke mana?” Tanya gue.

“Jadi, hmmmm. Beberapa hari yang lalu, pas kita pertama ketemu di sini lo masih inget kan? Yang gue terburu-buru banget itu? Yang gue‑‑”

“Iya, iya, gue inget,” Gue memotong kalimat dia sebelum suara cemprengnya memecahkan kaca-kaca yang ada di sini.

“Nah, bokap gue yang nggak pernah gue tau, yang pas pertama kali gue lahir udah ninggalin gue dan nyokap gue, beliau meninggal,”

“I’m sorry to hear that, Na,”

“Gue dan nyokap gue udah memutuskan untuk pindah, karena ternyata bokap gue yang belum pernah gue lihat itu, ngasih sebuah warisan. Warisan dia satu-satunya, katanya sih gitu,” Mata Nana mulai berkaca-kaca tapi dia tahan dengan memincingkan matanya.

“Waw, warisannya rumah? Di mana?” Gue malah penasaran.

“Bukan, gue sendiri belum tau kok. Baru diceritain sama nyokap gue,”

“Oke,”

“Yaudah, gue mau pamitan sama nomor dua puluh ya,”

Nana melangkahkan kakinya, belum sempat 2 langkah, gue taha dia.

“Tunggu, Na,”

“Kenapa?”

“Tapi,”

“Tapi kenapa?”

“Nomor dua puluh, udah ganti komputer.”

Chapter 5 Sayap Besi: Cahaya

@romiyooo / Selasa, 29 Maret 2016



Tangan kanan Erlan melayang cepat. Bertemu dengan pipi kiri seorang perempuan yang terkulai tergeletak lemas di hadapannya. Bunyi tamparan menggema di dalam bus itu. Memecah kesunyian yang telah menempati setiap sudut.

“Bangun!” seru Erlan, seraya mengguncangkan bahunya kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Annisa! Dengerin gue, apa yang lo rasain?”

Annisa masih sadar, matanya terlihat terbuka lebar. Ia mencoba membuka mulutnya, menggerakan bibirnya, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya terlihat seperti lapar akan udara. Tak lama kemudian bibirnya mulai membiru. Dadanya bergerak secara sporadik. Tiap gerakan menghasilkan nyeri yang terpancar dari raut mukanya dan air mata yang ia teteskan.

“Nisa ta-tadi jatuh pas bus ini geser karena longsor,” ucap seorang perempuan menangisi keadaan temannya. Ia hanya bisa berlutur diam dan menutupi mulutnya dengan kedua tangan, “Aku gak liat dia kena di mana...”

“Pulpen, saya butuh pulpen besi!” teriak Erlan meminta tolong, kemudian Erlan merobek beberapa kancing kemeja yang dikenakan Annisa menyibakkan dada kanannya, “Sorry Nisa, bukannya gue mau lancang,”

“Aku gak nemu pulpen besi, Lan,” Ucap Cinta sembari mengobrak-ngabrik semua tas yang bisa ia gapai, “Kita semua mau liburan, gak ada yang bawa pulpen,” Lanjut Cinta.

“Bu Anjali, dia selalu bawa pulpen di blazernya, pulpen para guru di sekolah kita dari besi tuh,” Ucap Erlan.

“Maksud lu yang ini?” tanya Mansa sembari menyerahkan pulpen berwarna silver.

Nice, Man,” Erlan menyambar pulpen itu dari tangan Mansa, “Tolong yang gak kuat jangan liat,” Erlan mengosongkan isi pulpen itu dengan terburu-buru. Jarinya meraba perlahan di dada Nisa bagian kanan atas.

Are you sure with whatever you’re gonna do?” tanya Mansa.
“Iga kedua? Ketiga? Atau keempat?” Gumam Erlan mengacuhkan pertanyaan Mansa.

“Lan, please answer..” pinta Mansa.

“Annisa ini pneumothorax, Man. Paru-parunya bocor, udara keperangkap gak bisa keluar dari situ. Gue mau nyelametin dia,

“Caranya?”

“Jangan ganggu dulu. Gue lagi mencoba inget semua episode House dan Gray’s anatomy yang pernah gue tonton,

You are basing your action on a Television series? WONDERFUL!” ucap Mansa kesal dan sarkastik.

“Gak ada jalan lain,” Ucap Erlan yakin kemudian menarik nafas panjang dan membuangnya, “Oke, Oke. Oke.” Erlan menangkan dirinya sendiri.

“Itu sebenernya pulpen mau diapa—“ tanya Mansa tak selesai.

Tangan Erlan menggenggam erat pulpen itu dan melesat kencang ke dada Annisa bagian kanan atas. Pulpen itu menancap cukup dalam, masuk setengah badan. Raungan kencang lepas memekakkan telinga semua penumpang bus. Suara udara keluar melalui celah sempitter dengan jelas seperti ban yang dibocorkan hingga kempes. Tarikan napas yang agak terengah menandakan paru-parunya telah berfungsi kembali. Bibirnya pun kembali memerah.

“Good. Good. Haha! Good!” Erlan tampak takjub dengan keberhasilannya sendiri.

 “Erlan, kamu hebat banget!” ucap Cinta gembira sembari menutupi Annisa dengan sebuah jaket,

“Cinta, pastikan Annisa duduk dan bernafas dengan pelan,” Suruh Erlan.

You sure are one hell of a guy,Lan,” Ujar Mansa sambil menepuk punggung Erlan.

“Tapi masalah besar kita belum sedikit pun punya titik cerah, Man.”

***

Masuk ke dalam jam keempat setelah bus terbalik. Hujan telah reda, matahari mulai mengintip dari balik awan. Lereng tebing hampir setinggi 8 meter itu kini telah runtuh dua pertiganya. Tanah lumpur, batu-batuan dan patahan pohon bercampur seperti adonan. Bus yang mereka tumpangi telah bergeser hingga tengah jalan karena tersapu longsoran, dan posisinya masih terbalik sembilah puluh derajat. Kini timbunan longsor telah menyelimuti bus itu secara keseluruhan, lapisannya cukup tebal sehingga sulit untuk keluar masuk suara ataupun cahaya.

Atmosfir di dalam bus terasa semakin berat dan kelam. Beberapa telefon genggam telah habis batre membuat pencahayaan semakin minim. Nafas Annisa semakin lemah, tarikannya dangkal dan menyakitkan. Bu Anjali masih belum sadar, hanya sesekali merintih, kakinya semakin bengkak. Mayat almarhum Pak Man telah masuk ke dalam rigor mortis.

Erlan duduk termenung, tangan kanannya menutup mukanya sementara tangan kirinya bergerak-gerak seperti menulis di udara. Kakinya naik turun menghentak-hentak. Sesekali ia berbicara sendiri, kemudian ia marah sendiri. Sementara Mansa, Cinta dan murid lainnya sibuk menyortir setiap tas yang mereka temui, mengeluarkan isinya satu persatu. Mereka mencari barang yang diminta Erlan.

“Erlan, mungkin ini bukan waktu yang pas,” Ucap seorang lelaki berjalan agak merunduk untuk menghampiri Erlan, “Dan memang gue gak kenal lo, tapi...” lanjutnya.

Erlan merasa terganggu dan meliriknya tajam, “Ya? Lo punya ide biar kita bisa keluar dari bus ini?”

“Eh,” lelaki itu kaget, “Gue cuman mau bilang—“

“Kalau nggak ada ide, simpan kata-kata lo itu. Jangan buang waktu gue,” Ucap Erlan sinis,

Lelaki itu tampak jengkel, “—terima kasih.” ucapnya pelan.

“Lo tahu gak sih, berapa volume bus ini?” Erlan berdiri mendekatinya, menatapnya tajam, “Tahu kira-kira berapa liter udara yang ada di sini?” Erlan membombardir lelaki itu dengan pertanyaan.

Lelaki itu terdiam, jelas di benaknya bukan hal ini yang ia harapkan terjadi, “G-gue gak tahu..” jawabnya lemah.

“Tahu berapa konsumsi oksigen manusia permenitnya?” Mata Erlan terbelalak marah, “Tahu berapa banyak waktu yang kita punya? HAH!?” bentak Erlan kencang,

Kenyataan itu disajikan seperti pil pahit ke setiap murid yang ada. Kegelisahan mulai meresap ke pemikiran murid-murid itu. Pertanyaan dan keraguan tumbuh subur di alam sadar mereka. Fakta bahwa bus ini telah sepenuhnya tenggelam dalam lumpur sudah lama di benak mereka. Namun, pertanyaan apakah udara masih bisa bersikulasi barulah muncul. Pertanyaan itu bagai domino yang jatuh. Menimbulkan pertanyaan berikutnya, berikutnya dan berikutnya hingga terhenti pada hal paling dasar. Naluri manusia untuk bertahan hidup.

‘Apakah aku bisa selamat.’
‘Kalau aku mati bagaimana.’
‘Aku belum siap mati.’

“Hey, Doni! Erlan! Sudah sudah,” lerai Mansa, sambil menuntun temannya menjauh dari Erlan, “Ini bukan saatnya kita berantem satu sama lain, Don,
Cinta menghampiri Erlan untuk menenangkannya, “Lan, kamu baik-baik aja?”
Erlan kembali duduk dan memejamkan matanya, “Biarkan gue berpikir Cin, tolong cari aja itu,” Ucapnya seraya menutup kembali mukanya dengan tangan kanan.

“Semua lagi mencari, Lan. Ini kita berjuang sama-sama,

“Cari, atau nggak ada peluang sama sekali,” Ucap Erlan dengan suaranya yang bergetar,

Cinta berlutut di depan Erlan. Ia menggapai tangan Erlan yang menutup wajahnya, menariknya dan menggenggamnya, “Jangan membebani diri kamu, seakan-akan ini semua salah kamu, Lan,

Erlan mencoba menarik tangannya kembali, namun  hal itu sia-sia. Ia lupa kalau Cinta itu kuat. “Gue udah liat tanda-tanda itu, tapi gue memilih diam, Cin,” Ucap erlan menjelaskan.

Mata Cinta menatap Erlan dengan kuat dan dalam. Tatapan itu berhasil masuk ke dalam tembok pertahanan perasaan Erlan. “Kamu liat apa?”

“Gue udah liat senyum gak simetris pak Man, gaya jalannya yang agak lain dan mukanya berkeringat lebih banyak disebelah kanan,” Ujar Erlan matanya sendu,
“Terus?” tanya Cinta.

“Itu tanda-tanda dia udah pernah kena stroke Cinta. Mungkin tadi itu serangan lagi makanya bus ini...” Jawab Erlan dengan nada lemah. Air mukanya berubah semakin menyiarkan penyesalan.

Nggak ada yang kamu bisa lakuin juga, Lan,” Jawab Cinta mencoba menenangkan Erlan.

Enggak, Cin, “ ucap Erlan terbata, “Mungkin gue bi—“ lanjutan kalimat Erlan terpotong oleh jari telunjuk Cinta yang  menempel pada bibir Erlan, menghalanginya untuk bergerak. Erlan kaget bagaikan diserang tiba-tiba. Ia hanya bisa terdiam.

“Yang kamu lakukan buat kita itu udah lebih dari cukup, Lan. Nyelametin kita dari tabrakan dengan truk. Nolong bu Anjali. Bahkan nyelametin nyawa Annisa juga itu kamu,” Ucap Cinta sambil terseyum menatap Erlan. Tak ada jawaban balik dari Erlan, hanya hening yang terdengar.

“Ada lagi yang kamu mau ceritain? Jangan dipendam sendiri,” Tanya Cinta, sembari melepaskan jarinya dari bibir Erlan.

“Terus tadi kayaknya gue udah denger suara—“ ucap Erlan.

“KETEMU!!” teriak salah seorang murid dari bagian belakang bus memotong kalimat Erlan. “KETEMUU!!” ia meneriakkannya untuk kedua kali dengan seluruh udara yang ada di paru-parunya, seperti menemukan harta karun. Semua kepala bertolak ke arah belakang bus.

***

“Semua udah di posisi sesuai permintaan lu, Lan,” Lapor Mansa, sambil memegang tiga buah silinder kecil dengan motif berwarna-warni, “Elu ngapain itu meriksa almarhum lagi, Lan…?” lanjut Mansa bertanya.

“Bagus, tinggal gue ambil,” ucap Erlan seraya menepuk-nepuk kantung baju dan celana almarhum Pak Man, “Ah ini dia!” ujar Erlan sambil mengeluarkan sebuah korek api dari salah satu sakunya, “Saya pinjam ya, Pak,

“Jadi kembang api air mancur ini buat apa, Lan?” tanya Mansa seraya menerima korek itu dari Erlan.

“Di rundown acara pariwisata kita bakal ada sesi api unggun dan kembang api dari tiap kelas.” Jawab Erlan sedikit melenceng dari pertanyaan. Kini ia telah bergerak dan berada di samping Bu Anjali yang masih tidak sadarkan diri, ”Maaf ya Bu, saya pinjam ini,” Ucap Erlan ke Ibu Anjali.

“Eh, bentar kok gak nyambung?” Mansa bingung.

“Namun untuk safety, pasti kembang api yang dipake, disediain dari sekolah,” Tutur Erlan lanjut menjelaskan, sembari tangannya melepas sepatu berhak sebalah kanan yang dipakai Bu Anjali, “Paling-paling jenis sparkles yang kayak bunga api atau jenis air mancur. Sesuai yang ditemukan oleh...”kalimat Erlan terhenti, ia menatap bingung ke arah lelaki yang menemukan tas berisi kembang api ini.

“..Reja.” Mansa menyelesaikan Kalimat Erlan.

“Betul, Reja. Hebat dia.”

Ah, I get it, you love to explain things, right?” ucap Mansa sambil menganggukkan kepalanya.

“Ini esensial, Man,” Balas Erlan cepat,

“Lu tahu dari mana itu stok kembang api ada di dalam bus, bukan disimpen di bagasi bus?”

“Di sini kadang gue sedih, Man,” Ucap Erlan meremehkan.

Ok, Now you are sad? I’m confused.

“Itu kan kembang api. Mana mungkin di taruh di bagasi bus yang deket dengan mesin dan segala sesuatu yang dapat terbakar di sana?”

“Bener juga lu, ”

“Jadi, inilah harapan kita, ucap Erlan yakin.

“Coba diperjelas, Lan.” tanya Mansa memancing lagi.

“Waktu kita gak banyak, Man. Sambil kita praktekin aja,” Jawab Erlan sambil bergerak pelan ke menuju tengah bus. Melewati tumpukan tas dan barang tak keruan lainnya.

“Pake sepatu ini Cin,” Ucap Erlan kepada Cinta sambil melemparnya.

Tangan Cinta dengan cekatan menangkap, “Siap!” teriaknya kemudian mulai mengenakan  sepatu itu tanpa pertanyaan sama sekali.

Cinta berada di belakang bus bersama dua orang murid. Wajahnya serius, pandangannya fokus tanpa keraguan. Tangan kanan dan kiri Cinta bertumpu pada masing-masing pundak temannya. Salah satu kakinya berpijak pada lengan bangku. Sebuah posisi kuda-kuda yang cukup janggal.

“Sekarang apa, Lan?” tanya Mansa.

“Tolong semua diam ya!” teriak Erlan, “Pasang kuping kalian,

Keheningan belum pernah terasa seperti ini, suara ludah yang tertelah dan bahkan gemeretuk gigi pun bisa terdengar. Letih mental dan fisik membuat setiap murid sulit berkonsentrasi. Namun tiba-tiba, suara bising yang berulang terdengar samar. Suara itu terasa jauh karena teredam oleh lapisan lumpur yang menyelimuti bus ini. Sebuah suara yang familiar. Suara desir baling-baling helikopter.

“Lan, itu kayak suara—“

“Helikopter SAR.  Mereka balik lagi,

“IYA!” Mansa gembira,

“Itu yang gue tunggu, Man. Negara kita punya tim SAR yang responsive. Apalagi ini merupakan jalan lintas pulau yang utama. Bencana kayak gini pasti beritanya akan cepat sampai begitu juga misi penyelamatannya,” Jawab Erlan tenang.

“Sekolah kita juga pasti udah sadar kalo bus kita ketinggalan. Mereka pasti cari tahu juga,” Ucap Mansa bersemangat.

“Sebelumnya gue denger mereka tapi samar banget dan hilang. Gue tahu mereka pasti akan balik,

“Tapi apa mereka bisa lihat kita?” tanya Mansa.

“Dengan tertimbun longsor? Nggak mungkin,

“Terus gimana?”

“Kita harus bisa kasih tahu posisi kita, jawab Erlan Cepat.

“Caranya?”

“Cinta, kita bisa mulai kapan pun!” teriak Erlan, “Mansa, tunggu aba-aba gue,” lanjutnya.

Kaki Cinta bertolak dari pijakannya, bergitu juga tangannya. Badannya terangkat keatas. Dengan cepat Cinta menghempaskan kepalanya kebelakang, sehingga badannya menjadi titik putar. Kakinya menanjak naik dengan cepat. Sebuah tendangan bulan sabit mendarat dengan keras di salah satu kaca jendela samping bus yang kini berada di atas mereka karena posisi bus telah terbalik. Ujung runcing sepatu itu menusuk kaca, meretakkannya tanpa kesulitan. Kaca itu pecah berkeping-keping.

Cinta mendarat sempurna setelah berputar 360omengakhiri gerakannya dengan luwes bagaikan atlet senam olimpiade.

“Oh! Seperti palu darurat untuk memecahkan kaca !” seru Mansa setelah melihat maksud Cinta memakai sepatu hak Bu Anjali, “Jenius, Lan!”

Bongkahan tanah bercampur batu terjun dari lobang kaca pecah di atas mereka. Cukup banyak bahkan hampir menutupi bangku yang berada di bawahnya. Namun tidak terlihat secercah cahaya yang masuk.

“Cinta coba lihat, tembus keluar apa enggak?” suruh Erlan.

Cinta menggunakan gundukan tanah yang jatuh sebagai keuntungannya. Ia menjadikannya sebagai pijakan untuk menggapai jendela itu. Berbekal spotong besi, ia menusuk-nusuk tanah itu sekuat tenaga. Namun hasilnya nihil.
“Bagian sini terlalu tebal lumpurnya, Lan.” Ucap Cinta sembari turun.

“Kita coba di tengah sini sekarang,

“Ok, Lan,

Kuda-kuda yang sama janggal, tendangan bulan sabit yang sama indah. Kaca berikutnya pun pecah jatuh berkeping-keping. Batu dan gumpalan tanah bercampur berhamburan ke dalam bus. Namun lagi-lagi, tidak ada tanda cahaya yang dapat masuk.

Tanpa aba-aba dari Erlan, Cinta sudah membawa dirinya mendaki timbunan tanah itu. Ia menusuk tanah itu satu kali. Dua kali. Tiga kali. Akhinya sekilas cercah cahaya masuk kedalam bus. Sesuatu yang telah ditunggu-tunggu oleh Erlan.

“LAGI CINTA!” teriak Erlan kencang. “Mansa bersiap bakar sumbunya!” lanjutnya.

Cinta mengumpulkan semua tenaganya dan  memberikan beberapa puluh tusukan pada tanah yang tersisa itu.Bagian demi bagian tanah lepas. Perlahan-lahan jumlah cahaya yang masuk mulai bertambah, badan bus menjadi lebih terang. Tak hanya itu, suara baling-baling helicopter kini terdengar lebih jelas. Angin segar pun masuk menggantikan udara yang sumpek di dalam bus.
“Cukup itu, Cinta!”

Rasa gembira luar biasa tersurat oleh teriakan murid-murid memanggil helicopter itu. Bahkan ada yang mempunyai akal untuk membunyikan klakson bus terus menerus. Air mata tak terasa membajiri hampir seluruh muka mereka. Peluk hangat dan haru saling berganti terjadi. Beberapa dari mereka sampai-sampai tak bisa menyuarakan kalimat, hanya tangis bahagia disertai gumaman yang terdengar tidak masuk akal.

“Helikopter itu tidak akan mendengar kita, teman!” ucap Erlan dengan wajah datar seperti memupuskan harapan teman-temannya. Semua wajah kini memusatkan perhatiannya kepada Erlan. Suasana bahagia itu tiba-tiba terhenti. Beberapa dari mereka masih dalam isak tangisnya.

 “Namun mereka pasti lihat air mancur warna-warni!” Lanjut Erlan dengan senyuman lebar memberikan kode kepada Mansa.

Mansa yang telah berada di dekat jendela itu menyulut beberapa sumbu dengan sebuah korek. Ia melempar tiga buah air mancur keluar jendela itu.

Obor harapan yang telah padam kini telah berkobar kuat menyala dalam warna-warni yang indah.










By: @AnakPetir

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]