[CERPEN] Singkat Cerita

@romiyooo / Selasa, 23 Juli 2013

Source: Google



Ini tadi gue ubek-ubek data dan nemu file ini. Isinya cerpen fiksi gitu. Dibuatnya setengah tahun yang lalu kira-kira. Selamat membaca..

******************************************************************************




Beberapa hari ini, aku setiap pagi hanya duduk diam di depan rumah. Ditemani secangkir kopi yang setia berada di sampingku. Berpandang di depan dengan bunga dan tumbuhan lainnya. Tidak, aku tidak melihat pemandangan itu. Aku lebih sering menengadah ke atas, melihat awan yang terbang bebas. Tak luput juga ada burung yang seolah-olah mengitarinya. Sederhana memang, namun indah sekali.
Aku sedang menunggu. Yah, menunggu wanita cantik, berambut sebahu.
Kira-kira satu bulan yang lalu, aku mengenalnya. Waktu itu aku sedang duduk manis menunggu bus di halte dekat sekolahku. Hujan yang tak berdosa itu turun, semua teman-temanku sudah pulang. Aku terlambat pulang karena harus mengerjakan tugas tambahan.
Semakin lama, hujan itu semakin deras saja.
"Ah, hujan. Busnya nggak takut hujanan juga kan? Ya masa nggak dateng-dateng.." Gumamku karena kesal lama menunggu.
Tak berselang lama, tiba-tiba dari seberang jalan terlihat seorang wanita berparas cantik itu berlari menerjang hujan. Rambutnya yang tergurai panjang membuatku ingin selalu memandang.
Terkejutku saat tiba-tiba dia sampai di halte bus ini. Dia merapikan tasnya. Menyapu air di atas rambutnya. Lalu duduk dan tersenyum tipis di dekatku.
"Ma-mau kemana?". Tanyaku basa-basi dengan canggungnya.
"Mau pulang nih, kamu sendiri juga mau pulang yah?".
"Iya. Eh, kamu sekolah dimana?".
"Aku sekolah di SMA 04.".
"Kok pulangnya sore banget?".
"Ada ekskul, kamu juga kok pulangnya sore banget? Ini hampir jam 5 loh..".
"Hehe, aku ada tugas tadi. Ya ngerjain sampe sore.".

Kami terdiam. Aku ingin sekali mengetahui namanya. Namun apa daya, mulutku tak mampu mengucapkannya. Selang beberapa menit, dia bergumam tanpa memandangku, melihat hujan dan menengadah ke langit.
"Eh, hujan kok gini yah. Bikin inget kenangan-kenangan gitu. Hebat.".
"Hmm?".
"Mungkin kita nggak akan tau kapan hujan ini reda..."
"Iya."
"Tapi kita semua tahu, hujan ini pasti akan reda".
"Iya, itu pasti".

Matanya jauh lebih dalam memandang langit. Seakan dia ingin berbicara kepadanya. Menyampaikan sesuatu, yang tak mungkin orang lain dapat mengerti.

"Hubungan seseorang itu seperti hujan".
"Maksudmu?". Aku semakin bingung..
"Kita kan nggak tau kapan akan reda, tapi kita tau pasti akan berakhir."
"Tapi, kita bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan sebelum hujan itu reda, kan?".
"Hmm?".
Dia menoleh ke arahku. Memandang dengan tatapan penuh tanya.
"Kita bisa ujan-ujanan. Kita bisa bermain dengan air. Dan bahkan tadi, kamu. Kamu bisa berlari-lari mengiringi hujan. Menurutku itu menyenangkan."
Dia kembali melihat langit.

Hening..

"Tapi, kita bisa terjatuh dan kotor saat hujan." Gumamnya sambil menghela nafas panjang.

Sampai beberapa menit, bus yang aku tunggu datang. Disusul di belakangnya bus yang akan dia naiki.
Sebelum dia berdiri, dan pergi, dia berkata lagi.
"Aku Meriva".
Lalu dia pergi begitu saja. Tak sempat ku ucapkan namaku. Dia melangkah dan untuk yang kedua kalinya dia menerjang hujan di hadapanku.
Dalam perjalanan pulang. Aku hanya melamuni dia. Meriva, nama yang bagus sekali.

Esoknya, entah takdir Tuhan atau memang kebetulan. Aku bertemu dengannya lagi. Sekolah aku dengannya memang dekat.
Kali ini tidak hujan. Dia sudah ada di halte bus itu. Bersama orang-orang lainnya. Ada penjual asongan yang sedang menjajahkan dagangannya. Ada ibu dengan bayinya yang menangis. Dan macam-macam jenis manusia ada di sana. Aku mendekati Meriva, dengan senyum aku menyapanya. Dia melempar senyum juga kepadaku. Aku duduk di sampingnya.
"Udah dari tadi?". Tanyaku yang hanya bisa basa-basi.
"Belum kok, baru sepuluh menitan".
"Sukur deh hari ini nggak ujan yah? Hehe". Bingung, aku bingung mau membuka obrolan seperti apa..
"Iya, tapi aku rindu hujan"..
"Ah, hujan nggak selalu indah. Lebih indah melihat langit biru dengan lukisan awan tuh di atas".

Kita sama-sama menengadah ke langit. Melihat ke Agungan Tuhan.

"I-iya, indah".
"Eh, kan kemarin kita belum kenalan. Namaku Jimi."
"Salam kenal Jimi, hehe. " Jawabnya terkekeh.

Ah, Tuhan tak mengijinkanku lama memandang makhluk indah ini. Bus yang  kami tunggu sudah datang.
Entah mengapa, aku selalu memikirkannya. Dalam lamunanku, atau dalam sadarku. Aku selalu membayangkan wajahnya, ah entahlah. Apa ini yang orang-orang sebut jatuh cinta?
Rasanya mengganjal sekali, namun asyik.

Esoknya, aku bertemu dia lagi. Kali ini kami mengobrol lebih lama, kami berbicara tentang hobi dan sejenisnya. Akhirnya aku mendapat nomor telfonnya. Dan itulah sesederhananya bahagia. Hehe.

Malamnya aku menelfon dia.
"Hallo"..
"Hallo, ini siapa?".
"Ini aku Jimi, hehe. Lagi apa va?"
"Lagi baca-baca buku aja nih".
"Wah rajin yah".
"Hehe, nggak juga. Kamu lagi apa?".
"Lagi.. Lagi duduk santai aja". Tadinya aku mau bilang lagi kangen sama kamu, tapi entahlah..
"Weh, santai mulu".
"Hehe, yaudah deh, takut ganggu, kapan-kapan sambung lagi yah."
"Oke deh".
*tuut..tuutt...tuuut* Telfonnya aku tutup.
Ya Tuhan, canggung sekali. Ya ampun, suaranya merdu banget.
Aku selalu saja memikirkannya, aku selalu saja membayangkannya, apa ini yang orang-orang sebut jatuh cinta?
Aku suka awan, dan dia suka hujan, hmm. Walaupun berbeda, ada samanya sih. Pikirku..

Lusanya, aku ketemu lagi sama dia. Di tempat yang sama tentunya. Halte bus yang mempertemukan kita. Kali ini kita lebih terasa akrab, tapi aku tetap saja canggung.

Saat aku sudah sampai di rumah, aku sms dia. Ngajak ketemuan besok di halte bus itu.
"Eh, besok kan hari minggu, tapi bisa nggak ketemuan di halte bus itu? Jam 09:00 pagi yah.". Tulisku.
Beberapa menit kemudian, dia membalas.
"Boleh deh, tapi nggak janji loh.".
Langsung aku bales.
"Iya nggak papa kok, hehe".

Besoknya, aku dandan seganteng-gantengnya, walaupun keliatannya sama sih. Langsung deh buru-buru pergi. Deg-degan banget yah ketemu gebetan, eh emang dia udah jadi gebetan?. Hehe.
Terserah apa namanya, yang jelas, hatiku berkata; Aku menyukainya.

Sampai di halte bus itu, aku menunggunya dengan sisa kegantengan yang ada. Duduk manis, menunggu seseorang yang lebih manis. Oh cinta, me-lebay-kan apa yang ada. Pikirku.
Sudah setengah jam lewat, tapi dia belum datang. Satu jam berlalu, juga belum datang. Akhirnya aku sms dia.
"Nggak jadi dateng apa?".
Karena nggak dibales-bales, akhirnya aku telfon. Tapi nggak diangkat-angkat.
Antara kesal dan khawatir, akhirnya aku memilih untuk pulang.
Sampai di rumah, ibuku tiba-tiba ngasih surat. Tumben banget ada yang kirim surat, biasanya cuma kirim broadcast. #Indonesia
Aku hampir shock, isi suratnya:
"Dear Jimi.
Ini aku Meriva. Maaf yah hari ini aku nggak bisa dateng, dan maaf isi surat ini singkat, aku menulisnya dengan terburu-buru.
Sebelumnya, aku mau bilang, aku seneng banget bisa ketemu sama kamu. Kalo ngobrol sama kamu, rasanya nyaman dan nyambung. Aku bener-bener berterimakasih sama Tuhan, telah mempertemukan aku sama kamu. Yah, walaupun pertemuan singkat. Aku suka hujan, dan kamu suka awan, hmm. Walaupun berbeda, ada samanya kan? Hehe. Aku tulis ini karena hari ini tiba-tiba penyakitku kambuh. Sakitku agak parah sih, aku juga harus operasi hari ini. Maaf yah sebelumnya aku nggak cerita dulu. Surat ini juga aku tulis sebelum aku masuk ruang operasi. Dan, kalo kamu baca tulisan ini. Itu berarti, aku udah enggak ada.
Terimakasih Jimi, atas segalanya.

Meriva."

2 komentar:

  1. Meski cerpen ini udah lama, tapi dibaca kapan pun tetep seru. Nice, ngingetin sama seseorang jadinya :)

    BalasHapus
  2. miyooo... Cerpen nya bkin gue nangis..asli !! Singkat tp dalemm bgt :'(

    BalasHapus

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]