Chapter 1 Sayap Besi: Peluang

@romiyooo / Senin, 21 Maret 2016

Source: Google

Denyit akibat gesekan ujung spidol dengan papan tulis terdengar jelas, berulang kali. Kelas itu sangat sepi, semua mata terpaku ke depan. Seorang guru perempuan mengenakan seragam blazer berwarna coklat, berdiri tegap, badannya cukup gemuk namun pergerakannya luwes dan rambutnya dikuncir rapih ke belakang. Ia mengangguk dan sesekali memicingkan matanya sambil melanjutkan oretannya di papan tulis.

“Baik, seperti janji saya, siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini maka besok kalian boleh liburan.” tanya perempuan itu dengan lugas dan intimidatif. Kelas yang tadinya sudah sepi makin menjadi. “Tapi kalau salah, hukumannya udah tahu kan?”

Tidak ada respon satupun dari murid-murid di kelas. “TAHU KAN? Farhan!” perempuan itu menunjuk seorang murid yang duduk paling depan. Petir siang bolong, murid itu sontak kaget. Ia langsung berdiri, wajahnya berkeringat dan tangannya gemetaran.

“Y-y-ya, Bu Anja-jali. H-h-huk..” ucap Farhan tergagap, suara semakin melemah seperti orang mau asma.

“APA?!” Bu Anjali menaikkan suaranya. 

“Huk-ku-kumannya kita gak ikut pergi ke pariwisata sekolah besok, Bu.” Ucap Farhan terburu-buru. 

“Itu aja?”

“D-dan ngebersihin setiap kelas dan ruangan di sekolah ini, sementara murid kelas lain pergi, Bu.” Ucap Farhan lirih.

“Nah, jawab gitu aja lama sih. Yaudah duduk lagi.”

“T-terima kasih , Bu.” Balas Farhan sembari memposisikan dirinya kembali duduk.

“Saya panggil dari absen saja, kalau gitu.” Ucapnya sembari berjalan ke meja di sudut kelas yang penuh dengan tumpukan folder-folder dan kertas. “Last chance, ada yang mau jadi sukarelawan?” kelas kembali hening.

“Oke,” jari telunjuknya mulai menari di atas selembar kertas yang Ia pegang, kolom demi kolom dilompatinya. “Gimana kalo si---“ kalimatnya terpotong oleh suara pintu yang terbuka tiba-tiba.

Semua mata kini beralih ke seseorang yang berada di depan pintu kelas yang terbuka,
“Eh, Bu Anjali.” sapa seorang murid laki-laki, dengan baju seragam putih abu-abu berantakan, muka baru bangun tidur dan sisa samar garis air liur di sudut bibirnya.

“Eh, Erlan.” Sapa Bu Anjali dengan sinis, “Dari ma---“

“Toilet, Bu. Tadi saya ke kunci di sana. Ehe.” Erlan mencoba kabur dari bahaya di depan matanya. Degup jantungnya mulai naik. Adrenalin mulai keluar dan mengalir di dalam pembuluh darah.

“Terkunci? Terus kamu ketiduran?”

“Tidak, Bu. Saya akhirnya manjat Bu, lewat ventilasi, sempit banget. Jadi rambut saya agak acak-acak gini, Bu.“ erlan mencoba beragumen tanpa melepaskan kontak mata dan suara yang dilafadzkan dengan tempo meyakinkan.

“Kamu kira ini di film?”

“Eh, gimana, Bu?” konsentrasi Erlan pecah.

“Mana ada kita punya ventilasi begitu!” Satu kelas bersorak ramai, mencemooh dan menertawai Erlan.

“Semua tenang!” bentak Bu Anjali.

“Ah iya, Bu. Kayaknya---“ usaha Erlan membela diri.

“Kayaknya kamu ngimpi.” Ucap Bu Anjali, sambil mengambil langkah demi langkah mendekat kepada Erlan.

“Bu?” Badan erlan merasakan aura bahaya seperti spider sense, ia mengambil satu langkah mundur.
“Lan,” Bu Anjali mengambil dua langkah maju.

“B..Bu..?” Erlan mengambil langkah mundur lebih banyak. Punggung Erlan mencium pintu kelas yang berada di belakangnya. Ia terpojok.

“Ya, ERLAN?” skak mat oleh Bu Anjali. “Kamu kerjain nih,” Bu Anjali memberikan spidol kepada Erlan.

Erlan bingung, “Eh, apa nih Bu?” sambil memegang spidol itu.

“Itu liat ilustrasi soal yang saya buat di papan tulis.” Ucap Bu Anjali sembari membawa badannya ke sebuah sebuah sofa kulit lengkap dengan kemampuan untuk berputar 360 derajat. Sebuah singgasana di depan kelas.

Erlan tampak focus, matanya berlarian ke sebuah gambar dan beberapa potong kalimat yang ada di papan tulis. “Saya punya satu pertanyaan, Bu.” Tanya Erlan.

“Apa?” jawab Bu Anjali agak terheran.

“Ibu kan wali kelas kita,” ucap Erlan.

“Iya betul, terus?”

“Ibu ngajar Bahasa Inggris kan?”

“Betul. Kenapa ya? Kok gak berhubungan.” Bu Anjali melempar balik pertanyaanya.

“Ini kenapa soalnya matematik, Buu?” protes Erlan sedikit kesal.

“Jangan berisik, kerjain aja. Kan sudah beribu-ribu kali saya bilang. Kami para wali kelas diberikan wewenang penuh oleh pak Mul atas metode pengajaran masing-masing.” Jelas Bu Anjali.

“Uwah, real life Onizuka..” gumam Erlan kecil.

“Kamu bilang apa?”

“Ah enggak, Bu.” Erlan menghela nafas panjang, “Baiklah, akan saya coba.”

“Perlu berapa lama?” Tanya Bu Anjali, sembari mengaduk-ngaduk teh yang di mejanya. “Lima belas menit?” Bu Anjali menyeruput Tehnya, bibirnya mengatup kecil. Cangkir perlahan turun dan beradu dengan tatakanya. “Ah nikmat.” Ia mengangkat cangkirnya lagi, “Atau dua puluh me—“

“Sudah.” Jawab Erlan singkat.

Semburan air keluar dari mulut Bu Anjali. Hampir seluruh kertas di mejanya basah. Ia kaget. Kemudian diikuti dengan suara batuk yang bersusulan. “Apa ka-kamu bilang?”

“Ini persoalan mudah, Bu.” Jawab Erlan santai dan tampak meremehkan.

“Mudah bagaimana, Lan? Jangan main-main kamu, ini masalah serius.” nada Bu Anji terlihat antusias

“Ikut kuis kok serius, Bu?”

“Ini hadiahnya Milyar, Erlan! Utarakan jawabanmu.” tampak Mata Bu Anjali berbinar.

“Jadi begini bu, kuis ini mengharuskan kita memilih satu pintu hadiah di antara tiga pilihan yang ada. Kemudian pembawa acara akan menawarkan kepada peserta kuis, apakah mau diganti atau tidak?” jelas Erlan gambling.

“Iya iya.” Bu Anjali mengangguk.

“Dan pertanyaan ibu di sini adalah : ‘Hitung secara matematis peluang dan cara terbaik untuk mendapatkan grandprize!’ ya kan, Bu?”

“Betul, Lan.” Nadanya semakin melengking, luapan kegembiraan tak terbendung.

“Strategi paling baik ya kita melakukan pergantian pilihan sewaktu ditawarkan, Bu. Simpel.” Jawab Erlan.

“Lah kok malah pindah pilihan? Saya pikir bertahan itu lebih baik.”

Erlan mengambil nafas panjang, “Begini, Bu. Ada tiga peraturan yang tidak tertulis di kuis-kuis speerti ini. Pertama, pembawa acara akan membuka pintu yang tidak dipilih oleh kontestan. Kedua, pembawa acara harus membuka pintu yang berisi zonk. Ketiga, pembawa acara harus menawarkan untuk mau mengganti pilihan antara yang udah dipilih dengan pintu yang belum kebuka.”

“Ok, sebentar. Ok, lanjutkan.” Ucap Bu Anjali terlihat mencerna informasi yang diberikan Erlan.

“Contohnya, Ibu pilih pintu 1, maka  pembawa acara akan membuka pintu 2 atau 3 kan?”

“Ya..”

“Namun di antara 2 atau 3 itu yang dia akan buka adalah pintu yang isinya zonk.”

“O..oke?

“Wah bingung dia. “ ucap Erlan tidak sopan. “Gini aja, Bu. Anggap grand prize-nya mobil ya, Bu. Maka akan jadi begini nih,” Erlan maju ke papan tulis, spidol yang di tangannya telah terbuka. Ia mulai menarik beberapa garis yang kemudian saling berpotongan, membentuk tabel.


Pintu 1
Pintu 2
Pintu 3
Tetap di pilihan Pintu 1
Pindah pilihan
Mobil
Zonk
Zonk
Menang
Kalah
Zonk
Mobil
Zonk
Kalah
Menang
Zonk
Zonk
Mobil
Kalan
Menang


Suasana kelas menjadi ramai, bisik-bisik antara murid lain mulai menggema. Mereka saling berteori juga. Saling komentar. Sementara Bu Anjali memandang tabel yang digambar Erlan dengan teliti dan perlahan.

“Itu jawabannya, Bu. Dengan kata lain, pindah pilihan akan memberikan kita 2/3 peluang untuk menang, sementara dengan tetap di satu pilihan hanya memberikan kita peluang 1/3.”

“Ini kok y-ya..” Bu Anjali masih kagum bercampur bigung, kalimatnya berantakan karena pikirannya masih teralih.

“Kapan daftarnya, Bu?” tanya Erlan ke Bu Anjali yang masih mematung di depan papan tulis. Kemudian, perlahan ia mengeluarkan telefon selularnya dari kantung blazernya.

“Ah, apa?” Tanya Bu Anjali sembari memotret papan tulis itu.

“Daftarnya kapan?” ulang Erlan.

“Lusa syuti---” Ucap Bu Anjali kecil bercampur malu terpotong.


“YES!!” Teriak Farhan yang kini tampak bersemangat, ia bangkit dari tempat duduknya dan naik ke atas meja, kemudian berteriak, ”BESOK KITA PIKNIK TEMAN-TEMAN! WOOHOOOO.” Teriakan itu diikuti oleh sorak sorai gembira yang berkumandang keras hingga terdengar hingga ruang guru.







By @AnakPetir

0 Komentar... Mau menambahkan komentar?

Berikan Komentar Anda:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]