Chapter 2 Sayap Besi: Terkucilkan

@romiyooo / Selasa, 22 Maret 2016


Dua puluh enam bus berwarna biru sepanjang 12.4m berjejer rapih di tengah lapangan hijau luas. Matahari bersinar cukup terik, kontras dengan hujan yang mengguyur tadi malam. Fenomena itu menyisakan bulit embun di tiap helai rumput dan membuat tanahnya menjadi berlumpur.

 “XI IPA C..” gumam Erlan sambil memerhatikan kaca depan bus satu persatu. Badannya menggendong tas hitam berlogo kucing lompat yang cukup besar. Ia tampak terengah membawanya. Ia tampak terengah dan keringat mulai membasahi bajunya. Kakinya semakin berat karena tana becek lapangan itu bertumpuk melekat pada sepatu, langkahnya pun memelan. “Ah, itu dia.” Sudut bibir Erlan mengecil dan tarikannya memanjang. Senyuman gembira seperti seorang saudagar melihat oasis di tengah gurun. Ia mengumpulkan tenaga kemudian berlari kecil.

Seorang wanita, rambutnya sebahu terlipat rapih di belakang kuping. Anting emas bermatakan berlian yang ia kenakan terlihat jelas. Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang sama dengan Erlan serta dilengkapi rompi oranye yang silau tampak berdiri di depan pintu bus itu.

“Ini bi-s saya..” ucap Erlan tergopoh-gopoh. “Panasnya. Dan becek, kombinasi luar bi—“ keluh Erlan lanjut. Sambil meletakkan kakinya ke anak tangga pijakan pintu bus.

“Maaf, bis penuh.” Ucap wanita itu, meletakan semacam tongkat kecil di depan dada Erlan, menghentikan langkahnya. “Gue person in charge bus ini. Nih liat.” Ucapnya sembari menunjuk-nunjuk rompi tersebut dengan logo OSIS sekolah.

“Eh, tapi gue kelas XI ipa C juga, Vini. Yang duduk di belakang kanan.“ Erlan menjelaskan menganggap temannya mungkin lupa kalau ia juga berasal dari kelas yang sama.

“Iya gue tahu, Lan.” Ucap Vini dengan wajah mengasihani.

“Terus?” Nada bicara Erlan naik.

“Tapi kita udah full. Lo liat aja sendiri.”

“Well, jumlah kursi bus ini dan jumlah murid kelas kita harusnya cukup ya. Matematik dasar kok.” Cibir Erlan sinis.

“Maksud lo apa? Gw gak bisa matematik?” Vini balik marah, “Jangan mentang-mentang deh, anak baru! Kan kita bawa tas juga gimana sih.” ucap Vini keras, menarik perhatian beberapa teman lainnya.

“Gak ada hubungannya. Ngaco.” Balas Erlan sambal memaksa badannya masuk.

“Eh, temen-temen! Ini ada anak baru yang kerjanya suka baca buku di atap sekolah kita, tahu kaan?” pekik Vini ke dalam Bus, “Kita bolehin masuk gak?” lanjutnya sambil tersenyum licik.

“Whooooo..” balasan seruan yang terpadu menggaung di seluruh badan bis.

Erlan tak menyangka teman-teman kelasnya bisa menjadi paduan suara instan. Langkahnya terhenti. Ini memang bukan hal yang baru baginya. Namun setiap kejadian ini, emosinya selalu mendidih. Matanya tampak mulai berapi, tengannya menggenggam erat tas yang ia tenteng.

“Nah ini dia yang di cari!” suara yang familiar itu melerai emosi Erlan yang hampir meletus. “Kamu sama Ibu aja di bus ujung, di sana masih kosong.” Ucap Bu Anjali menarik Erlan keluar bus.

“Loh Ibu bisa di sini.” Ucap Vini menjadi serba salah.

“Kan penuh kata kamu, Vin.” Balas Bu Anjali, “Lagian saya butuh orang untuk taruh barang-barang saya ke bus sana.”

Vini terdiam habis kata-kata untuk menjawab pernyataan Bu Anjali.

 “Ayo cepetan.”Bu Anjali menggeret Erlan menjauh dari bus.

“Tapi Bu.” Erlan mencoba membantah, namun apa daya badannya kini sudah di luar Bus. Tak lama kemudian pintu bus pun tertutup.

“Baiklah, bu.” Muka Erlan tertekuk memancarkan kekecewaan perlakuan teman-temannya. Ia menyeret badannya mengikuti langkah Bu Anjali yang cukup lincah walau mengenakan seragam blazer dan rok.

Membaca raut Erlan, insting seorang guru keluar,“Tenang kan ada Ibu.” Bu Anjali mencoba menenangkan, sambil tersenyum. Hal yang ternyata cukup efektif meredakan emosi Erlan.

“Ibu, tapi saya masih perjaka. “ balas Erlan jenaka, mukanya kembali cerah.

“Eh, kamu jangan main-main ya!” Langkah Bu Anjali terhenti. Mukanya menatap Erlan. Kelopak matanya terbelalak.

Oh-sh-

“Bisa loh, kamu saya suruh cabutin ini rumput lapangan pake gunting kuku.” Ucap Bu Anjali, sambil kedua tangannya terlipat di depan dada.

Erlan menelan ludah, “Iy-ya, Bu. Maaf, itu bercanda tadi.”

“Sekali lagi ya, Erlan.” Telunjuk Bu Anjali berada beberapa sentimeter dari muka Erlan, sebuah tanda peringatan yang tegas.

“Tidak akan, Bu.” Erlan menggeleng cepat.

Good.” Ucap Bu Anjali sembari melangkah lagi.

“Busnya jauh, Bu?”

“Kita naik ke bus paling pojok. Makanya ayo.” Jawab Bu Anjali sedikit kesal dan terburu.

“Barangnya ada dua ya, Bu?” tanya Erlan sambil melirik.

“Oh, iy—“

“Eh, tiga. Dua koper cukup besar dan satu tas kecil lebih tepatnya, Bu. Saya tahu.” potong Erlan yakin.

“Macam tahu Ibu aja kamu.” Bu Anjali skeptis.

“Ibu pake kuku palsu dan kutek, Bu.” Ucap Erlan datar sambil menunjuk ke tangan Bu Anjali.

“Hahaha, liat aja kamu.” Bu Anjali tertawa dalam kaget. Ia melihat tangannya secara reflek.

“Iya dan dua kukunya lepas, satu di tiap tangan. Menurut saya itu pas ibu mencoba angkat sendiri bawaan ibu secara bersamaan. Satu di masing-masing tangan.”

“Kamu stalker ya?”

“Tidak bu. Sumpah.”

“Kok bisa—“

“Dan itu semua karena Ibu kepeleset.”

“Stop.” Bu Anjali berhenti untuk yang kedua kalinya, mukanya menatap Erlan curiga, “Kamu, ada apa-apa ya sama saya?”

“Eh enggak, Bu. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya masih berminat dengan yang seumuran.”

“Wah, baru aja kamu menggunakan kesempatan terakhir kam—“

“Ok, saya jelasin, Bu. Ayo sambil jalan.” Potong Erlan sembari berjalan kembali.

“Ok.This better be good, or else.” Ucap bu Anjali.

“Pertama, kuku palsu yang lepas di tiap tangan Ibu.”

“Iya itu kamu udah sebut tadi.”

“Kedua, ibu pake sepatu hak tinggi, udah tahu tanah ini agak becek abis ujan kemarin. Juga, Ibu pake baju seragam blazer.”

“Well, ya—“ Bu Anjali nampak masih bingung.

“Ketiga, ada sedikit memar di betis Ibu.” Ucap Erlan dengan nada sedikit bangga, momen seperti inilah yang selalu ia nantikan.

Can you get to the point, Lan?” Bu Anjali tampak tak sabar.

“Deduksi saya, Ibu tadi dateng pakai kendaraan kemungkinan besar taksi, membawa dua koper besar dan satu tas kecil. Tentunya pasti ibu membawa tas kecil untuk telefon genggam, dompet, alat make up dan sejenisnya, dong. Awalnya ibu menggunakan sepatu kets biasa dan pake seragam olahraga kayak guru-guru lain. Perempuan biasanya perhatian dengan hal-hal seragam dan sepatu gini, gak mungkin Ibu tiba-tiba beda sendiri. Kemudian, barang-barang ibu pertama kali di keluarkan oleh supir taksi dari mobilnya karena sudah menjadi service mereka.”

“Bisa aja saya dianterin sama calon suami saya.” Bu Anjali mencoba menyangkal.

“Tidak, Bu, Kalo emang begitu ibu bisa minta tolong sekalian dibawakan barangnya sekalian dong.” Tangkis Erlan.

“Terserah.”

“Ini bagian menariknya Bu. Setelah turun taksi ini barulah semua masalah terjadi.” Erlan lanjut menjelaskan.

“Loh kok kamu—“ Bu Anjali tak bisa membendung kaget, alis matanya mendekat, wajahnya tampak penuh keseriusan.

“Belum, Bu.” Kini Erlan yang mengacungkan jari telunjuknya, “Abis itu, gak sengaja ibu jatuh terpeleset sewaktu mencoba mengangkat barang sendiri. Saya duga karena Ibu males bolak balik, jadi ibu mau angkat semua barangnya sekali jalan. Satu di tangan kanan, satu di tangan kiri dan tas kecil di kempit di kiri. Sayangnya, estimasi Ibu salah ditambah medan tanah yang kurang bersahabat. Jatuh deh, ke dalam sebuah kubangan.”

“Wah—“ tambah kaget Bu Anjali kini menggeleng kecil. “Gak mung—“

“Dari jatuh itu, kuku palsu di tiap tangan ibu lepas dan memar di betis. Sepatu dan baju olahraga yang ibu pake di awal basah dan kotor semua. Maka logisnya, ibu akan ganti baju dan sepatu dengan yang sudah dibawa.” Ucap Erlan penuh kemenangan.

“Benar—“ Bu Anjali tersedak kagum.

“Yang terakhir, ini tebakan saya, barangnya sudah ada yang bantu kan, Bu?” tanya Erlan dengan nada memastikan.

“Kamu kok bisa, Lan?”

Dari jauh tampak seseorang pria paruh baya melambaikan tangan dan berseru, “Barangnya wis saya masuken, Bu Anjali.” dengan aksen medok.

“Yang itu, Bu, bus kita?” potong Erlan.

“Eh, iya itu, Bus kita.” Jawab Bu Anjali ke Erlan, “Terimakasih, Pak Man!” Seru Bu Anjali balik.

****************************************

“Ayo!” Ujar Bu Anjali mendorong Erlan masuk ke dalam bus yang bertuliskan XI IPA G. Daya dorong itu cukup besar, Erlan tampak sedikit terhuyung. “Pelan-pelan, Bu.”

Suasana yang tidak asing kembali menerpa Erlan, puluhan pasang bola mata menatap aneh dan menghakimi. Namun kini Erlan tampak tidak peduli. Sarafnya sudah mulai peka. Ia tetap berjalan hingga menemukan tempat duduk di deretan belakang.


Tiba-tiba terdengar pekikan bising dari pengeras suara di dalam bus, “Tes.. tes satu. Tes satu dua. Nah bisa.” Ucap Bu Anjali menggunakan PA bus.“Selamat siang, kelas XI IPA G, karena satu dan lain sebab, bus kelas XI IPA C penuh. Jadi saya dan murid saya ini, Erlan, numpang di sini ya. Thank you~” 








By @AnakPetir

0 Komentar... Mau menambahkan komentar?

Berikan Komentar Anda:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]