Chapter 3 Sayap Besi: Sembilan Puluh Derajat

@romiyooo / Kamis, 24 Maret 2016



“Mansa” kata itu keluar dari mulut seorang laki-laki berkacamata dengan postur tubuh jangkung dan kurus. Ucapan itu diikutidengan juluran tangan kanan.
Awalnya ragu, Erlan agak tersentak diam tak berapa lama.Matanya memindai sosok di samping bangkunya, “Erlan dari XI IPA C.” ucap Erlan sambil menjabat tangan Mansa.

“Ya gue tahu kok, anak baru semester kemaren kan?”

“Iya, betul. Kayaknya gue cukup populer.” Ujar Erlan penuh nada ironi.

“Siapa yang enggak tahu, Lan. Seorang anak baru masuk ke sekolah ini kemudian mencuri perhatian semua orang dengan nilai akademis yang hampir sempurna.”

“Ya tapi—“
“Dimana nilai sempurna bagi SMA Bibit Bangsa kita ini, yang notabene terbaik seluruh negeri, adalah hal yang hampir mustahil.” Ujar Mansa sambil menepuk tangan kecil.

“Jangan memuji, kawan. Nilai sejarah gue merah.”

“Iya, nilai awal..” jawab Mansa membuka laptop berwarna hitam yang ia pangku. Jari-jarinya menginjak beberapa tuts keyboard bolak-balik,diselingi dua kali gerakan membetulkan posisi kacamata dengan jari tengah, “Nilai awal 52, kemudian Her mendapat, hmph, sayang sekali 64. Dan tampaknya her kembali dengan nilai akhir 71.”

“Sebentar.”

“Ya?.”

“Dari mana lo bisa tahu nilai-nilai gue? Jangan-jangan lo salah satu murid ambisius yang selalu nyatet nilai-nilai saingannya?” tanya Mansa dengan sinis.

No of course not.”

“Lah terus?”

“Ini gue intip dari situs akademis sekolah kita.”

“Darimana lu dapet password gue? Atau jangan-jangan elu admin situs itu?”Ucap Erlan menuduh.

“Hahaha. Enggak lah. Gue punya acara sendiri buat masuk.” Ucap Mansa sambil senyum lebar dan alisnya naik dua kali ke atas.

“Lo hack sekolah kita?”

“Sstt!” Seru Mansa.

“Beneran nih?” Erlan tampak kagum, air mukanya berubah.

“Sekolah kita kan safety banget. Lihat aja ini bus pariwisata sampai ada sabuk pengaman segala. Apalagi persoalan data nilai muridnya.”

Yes, I have my proficiency in IT stuff.”Lanjut Mansa.

“Alias nerd.” Balas Erlan cepat, sambil mengejek bercanda.

“Istilah yang kurang pas sebenernya, Lan.”

“Tapi kok,”

“Lu gak percaya?”

“Boleh gue tes?”

Hit me.

“Nih, coba lo masuk ke sini.” tanya Erlan sembari menunjukan peramban di telefon genggamnya bertuliskan NASA.

“Haha.” Mansa tertawa kecil, “Mau ngapain?”

“Selfie pake satelit.” Ucap Erlan semangat.

Actually, that is a pretty cool yet dumb idea.

“Lumayan buat update di Path.”

“Tapi abis itu ketangkep.”

“Gimana? Bisa nggak, Man?” tanya Erlan kembali.

“Yang jelas bukan dari situs itu. Sisanya gak bisa komen gue.” Jawab Mansa.

“Pola nafas yang tidak berubah, kontak mata tetap, mikro-ekspresi muka yang tidak menunjukan tanda-tanda kegelisahan.”

“Maksudnya?”

“Lo emang bisa ngelakuin itu. Bukan bohong.” Erlan menyimpulkan.

“Lu baca ekspresi gue, Lan?”

“Iya.”

Wow. Never been this impressed by one guy.” Ucap Mansa kagum sementara tangannya sibuk mengetuk-ngetuk di telefon genggam Erlan, “Anyway, lu adalah orang pertama yang ngetes skill gue dengan situs NASA. Biasanya mereka minta gue hack situs yang ini.” Ucap Mansa sambil menunjukan layar telefon genggam itu.

Tangan Erlan menyambar telefon genggamnya, “Hei! Lu jangan hack handpho

“Gimana?” Mansa mengangkat kedua alisnya dua kali.

“Oh ya, kalo yang ini gak apa-apa, sih.” Ucap Erlan dengan nada setuju, sementara matanya terfokus pada layar telefon genggamnya. Jari telunjuknya bermain diatas layar, ke atas dan kebawah.

Mansa tampak condong mendekat, “Nah, gak cuman situs brazze—“

“Stop. Oke, dua hal harus diperhatiin, Man.” Ucap Erlan tiba-tiba menghentikan perbincangan serunya.

Mansa kaget dan menarik badannya, “Apaan tuh?”

“Satu, jangan deket-deket. Risih gue.” Ujar Erlan sambil  mengacungkan dan menggoyangkan jari telunjuknya, “Dua, suara elu masih kekencengan. Yang di depan kita kayaknya ngupi—“

“Hey, kalian ngomong apa sih kayaknya seru banget?” tanya seorang cewek, tiba-tiba muncul dari deretan satu bangku persis di depan. Cewek ini berparas putih cantik. Wajahnya mungil orientalisnya muncul setengah dari balik bangku, menyisakan matakecil yang ingin tahu. Rambutnya dicat berwarna merah-coklatan dan cukup panjang hingga bisa dikepang dua sama rata kanan-kiri.

“Ah enggak, Cinta.” Jawab Mansa spontan, tangannya cepat menutup layar laptopnya, “Bukan apa-apa kok. Biasalah cowok.”

“Bohong. Cinta denger tadi samar-samar.” Jawab Cinta matanya menajam hingga hampir hilang.

“Ah kamu mah kebiasaan gak percaya, Cinta.” Balas Mansa lagi.

“Betul. Kami gak ngapa-ngapain kok.” Erlan mencoba membantu, “Cinta ya namanya?”

“Iya, kamu Erlan kan?Anak baru yang her sejarah dua kali, dengan—“

“Cukup. Cukup. Ya, bisa disimpulkanlo denger pembicaraan gue sama Mansa tadi.” Potong Erlan, merasa sedikit malu.

“Maaf, ya. Hehe. Salam kenal, Erlan.” Pinta Cinta dengan muka polosnya.

“Cinta, lo suka band Scandal kan?”

“Kamu juga? Waaah!” matanya berbinar penuh semangat.

“Udah coba cek belum album terbarunya yang judulnya Yellow? Coba deh download dan dengerin.”

“Oooh udah keluar ya?”

“Udah banget. Beberapa hari lalu. Cepetan download, mumpung kita masih di daerah yang ada sinyal.”

“Wah asyik! Makasih infonya, Erlan.” Ucap Cinta riang, ia pun kembali duduk dan memasang headphonenya. Tangannya memengutak-utik telefon genggamnya lalu hanyut dalam lagu. Volume-nya cukup keras hingga terdengar samar oleh Erlan dan Mansa.

Erlan menghela nafas panjang, “Ok, beres. Sampe mana kita?” ucap Erlan sambil memalingkan wajah kembali ke arah Mansa.

“Gak nyangka gue, lu suka band yang sama dengan Cinta.” Ucap Mansa bingung campur nada cemburu.

“Wah kok, gue merasakan getaran jealous nih.” Ucap Erlan tersenyum mengejek.

“Enggak enggak. Ngarang, lu.” Mansa menepis tuduhan itu.

“Itu tadi pas jalan ke bangku ini, gue liat gelangnya si Cinta.” ucap Erlan menjelaskan.

“Gelang yang mana?”
“Itu gelang karet warna putih yang dia pake di tangan kiri. Kan ada lambangberbentuknya huruf C dan S seperti petir. Setelah gue inget-inget beberapa hari lalu gue pernah liat lambang itu di website lagu. Nah, Itu lambang punya band namanya Scandal, dan baru-baru ini rilis album baru.”

“Lu proses semua tadi secepat barusan?” Mansa tercengang.

“Iya.” Ucap Erlan dengan nada sombong, “Kebiasaan.” Lanjutnya.


***

Masuk ke dalam empat setengah jam perjalanan, hampir seluruh murid dan guru yang berada dalam Bus ini terlelap pulas. Hujan cukup deras menerpa kaca bus, airnya mengetuk-ngetuk hampir membuat irama yang cukup cocok sebagai penghantar tidur. Hanya Erlan yang masih terjaga. Sifatnya yang mudah bosan membuat dirinya menjadi tidak sabaran dengan rutinitas yang monoton seperti ini. Berbagai hal biasanya ia lakukan untuk menghibur otaknya. Matanya kini berlarian kesana kemari mencari sesuatu yang bisa ia analisa. Pandangannya sesekali melihat rentetan jendela satu-per-satu, menghitung berapa tebal jendela itu. Kemudian pindah mengamati tas-tas yang ditumpuk di belakang bus, memperkirakan berapa berat semua barang itu.

“Gak bisa tidur?” tanya Mansa memecah lamunan Erlan, “Jalan lintas pulau emang belok-belok gini sih ya, jadi gak nyaman.” Sembari mengganti letak bantal ditidurnya.

“Emang susah gue tidur di kendaraan.” Jawab Erlan.

“Kalo gue paling gampang tidur.” Balas mansa, sambil kembali mengubah posisi bantal lehernya, “Coba aja merem lagi deh."Mansa menutup matanya kembali sembari menempelkan kepalanya ke arah jendela.

Anyway, Man. Lo ikut ekskul apa?”

“Ya?” Mata mansa terbuka satu, ia menghela nafas, “Gue ikut sains dan IT. Lu belum punya ekskul ya?”

“Belom. Kata wali kelas gue harus punya biar ada nilai, kalo enggak gak bisa ikut ujian akhir.”

“Mau masuk sains dan IT nggak? Tesnya gak ribet kok. Nanti gue bantu deh.”

“Enggak minat.”

“Lah gimana..” Mansa sedikit kesal, “Yaudah lu pikir aja dulu deh, coba sambil diperjalanan ini mikir itu. Cari wangsit, gih.” Mansa menutup kembali matanya untuk ketiga kali.

By the way, Man.”

“Kenapa lagi?” Mansa menahan amarahnya.

“Lo tahu ada berapa belokan dari sekolah kita sampe saat ini?” Ucap Erlan sambil kepalanya melihat kearah langit-langit.

“Hah?” Mansa agak kaget dengan pertanyaan yang agak diluar konteks, Ia bangkit dari posisinya, “Well, jawabannya adalah dua. Belokan ke kiri dan kanan.” jawab Mansa sembari merogoh saku depan baju untuk mengambil kacamatanya. Kini rasa kantuk Mansa pun hilang.

“Kurang tepat.”

“Lah ya terus apa?”

“Bukan apa. Tapi berapa, Mansa.” Erlan menatap Mansa serius, “Lima puluh tujuh belokan sudah kita lalui, Man. Tiga puluh tiga belokan ke kanan dan dua puluh empat belokan ke kiri.”

“Ahaha, gila lu, Lan.” Mansa mencoba tertawa, mengganggap itu adalah upaya Erlan untuk melucu. Berharap Erlan akan ikut tertawa namun tidak terjadi, “Eh serius?” mimik muka mansa berubah, ia membuka laptopnya.

“Hitung aja.”

“Duh, sayang ini kita di daerah gak ada sinyal, gue harus itung manual dari digital map yang ada.”

“Iya coba aja, tapi kalo sekarang udah 58, Man.”

Mansa kaget melihat hasil perhitungannya di laptop, “Oh my,itu jumlah yang tepat. Elu robot dari masa depan ya? Kayak terminator gitu?”

“Ya dan gue akan melindungi lo, Mansa O’Connor.” Sambut Erlan dengan lelucon.

“Ngapain sih elu hitungin? Biar bisa tidur orang mah hitungin domba.” Mansa heran.

“Bukan, Man. Itulah yang otak gue lakukan secara otomatis. Lapar akan informasi. Memprosesnya adalah kenikmatan buatnya. Ya buat gue juga.” Tutur Erlan serius.

“Tapi itu keren sih.” ucap Mansa mencoba merasionalisasi apa yang baru ia dengar, “Ok, boleh gantian gue yang tes?” tanya Mansa.

“Seperti kata lo tadi, Hit me.” Ucap Erlan meniru gaya bahasa temannya itu.

“Ada berapa jumlah laki-laki dan perempuan di Bus ini—“

Elementary, Man.” Potong Erlan.

“—yang pake kacamata?” lanjut Mansa, merasa kali ini yakin pertanyaan ini akan sulit dijawab oleh temannya.

“Ok, termasuk supir dan guru maka ada,12 laki-laki dan 11 perempuan. Dan yang make kacamata ada 4 orang laki-laki dan 2 perempuan. Puas?” ucap Erlan terlihat sumringah.

Gila. How high is your IQ?” Mansa tampak ingin tahu.

“Waktu SD pernah dicek hasilnya 17—“ kata-kata Erlan terpotong, “Eh, Lo ngerasain?”

“Apaan?” Mansa bingung. Keduanya terdiam, “Oh iya ini kita kok kita kayak makin ke kan—“

Erlan langsung melepas sabuk pengaman dari kursinya dan bangun kemudian berlari ke bagian depan Bus. Semua tenaga yang ada ia kerahkan untuk melontarkan badannya maju.

“Lan, mau kemana lu!?” teriak Mansa bingung, Ia pun melepaskan sabuk dan berdiri dari tempat duduknya. Pandangannya kini terfokus pada sosok pria berpakaian safari hijau tersungkur jatuh tepat di belakang stir. Mansa pun sadar bawah orang itu adalah Pak Man, supir Bus ini. Kedua tangannya tidak lagi memegang setir Bus. Kendaaraan yang berisikan sekitar 20-an manusia ini mulai tergelincir masuk ke jalur lawan. Dari arah berlawanan terlihat kilatan-kilatan lampu yang diikuti oleh raungan klaskon sebuah truk container.

Erlan, sampai di depan dalam beberapa detik. Ia langsung mengangkat badan Pak Man yang terkulai lemas memindahkannya dari kemudi. Tangannya langsung memegang stir membantingnya ke kiri mencoba menghindari tabrakan adu banteng dengan truk tersebut. Namun truk container tersebut tetap mencium bagian ekor Bus membuatnya kehilangan keseimbangan dan terbalik sembilah puluh derajat. Kecepatan awal yang cukup tinggi membuat gaya itu tidak habis begitu saja, Bus masih terseret beberapa puluh meter hingga akhirnya menabrak pinggir pembatas jalan dan berhenti di lereng.













By: @AnakPetir

0 Komentar... Mau menambahkan komentar?

Berikan Komentar Anda:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]