Chapter 4 Sayap Besi: Harapan

@romiyooo / Sabtu, 26 Maret 2016



Hujan makin deras membasahi lereng dan aspal hitam yang penuh serpihan kaca. Asap hitam keluar dari beberapa titik badan bus. Roda belakangnya masih berputar. Di dalam bus sudah seperti kapal pecah, barang barang porak poranda tak karuan letaknya. Hampir semua murid di dalamnya tertahan oleh sabuk pengaman di tempat duduk masing-masing. Lampu di dalam bus mati, suasana kontan gelap gulita. Bau ban terbakar karena gesekan dengan aspal bercampur dengan bau tanah yang dibasahi hujan menjadi satu sensasi yang tidak enak.

“ANAK-ANAK!” teriak Bu Anjali, “As-astaga, apa yang terjadi..” tanyanya sembari memegang kepalanya yang sangat sakit. Ia membuka mata dan memejamkannya berulang kali, namun hanya gelap yang terlihat. Bu Anjali panik.

 “Ibu Anjali?!” panggil Erlan, “Ibu gak apa-apa?!” teriakan Erlan terdengar dekat, namun Bu Anjali tidak dapat menentukannya dengan jelas dari mana.

“ERLAN! KAMU DI MANA?” JAWAB!” tanya Bu Anjali dalam teriaknya. Ia pun mencoba meraba-raba dalam keremangan di dalam bus yang hancur itu, “Kaki ibu sakit, Lan.” rintihnya.

“Bus ini kecelakaan lalu terbalik bu, kemungkinan ibu tergantung di sabuk pengaman bangku. Jangan bergerak dulu, Bu. Hati-hati,”

“Ok, Lan. Tapi ini gelap banget. Ibu gak bisa liat apa-apa,”

“Pake handphone, senter atau apa bu. Cepat ini Pak Man, Bu!” Desak Erlan.

Bu Anjali merogoh sakunya namun telefon genggamnya tidak ada, “Handphone saya jatuh Lan. Tidak ada di kantong. Ya ampun..sakit sekali kaki kanan Ibu. Arghh!” Bu Anjali merejan kemudian kehilangan kesadaran lagi.

“Ok, ibu jangan bergerak. Kaki ibu mungkin patah. Nanti saya ban—” Ucap Erlan terpotong oleh secercah cahaya dari deretan bangku bagian belakang bus, “HEY ITU SENTER!” teriak Erlan.

Cahaya itu mulai mengarah ke depan, sesekali mengenai kaki Erlan, terus bergerak hingga akhirnya berhenti pada muka dan badan Erlan.

“Erlan!?”

“Mansa? Itu lo yang pegang senter?”

“Iya, Lan!” suara Mansa naik dan agak tenang, “Lu gak apa-apa di depan?”

“Ke sini Man. Cepet. Bantu gue, ini Pak Man bahaya,"

Mansa mencoba mencari pijakan yang kuat. Kakinya meraba-raba pelan. Sementara itu, satu-demi-satu murid lain mulai sadarkan diri. Mereka mulai panik. Teriakan tolong, panggilan kepada Tuhan dan tangisan bercampur menjadi satu. Suasana menjadi sangat mencekam.

Setelah melompati beberapa besi-besi bengkok, ratusan pecahan kaca dan barang-barang yang tumpah, akhirnya Mansa sampai di depan kemudi, “Lu baik-baik aja??”

“Gue gak kenapa-napa. Tadi gue langsung pegangan. Tapi ini, Pak Man,” Jawab Erlan lirih.
Senter Mansa menyinari Pak Man yang kini tampak tak begerak.  Posisinya bersandar dan badannya terlihat lemas dengan luka-luka pada mukanya. Erlan terlihat berulang kali menekan dada kiri Pak Man dan sesekali memberikan nafas buatan, “Pak Man masih—“ tanya Mansa.

“Gak nafas dan gak ada denyut nadi. Ini gue lagi coba CPR,” potong Erlan.

“Astaga. Astaga. Astaga, Erlan.” Mansa hampir saja jatuh lemas mendengar kabar itu, pikirannya kabur.

“MANSA!” teriak Erlan mencoba menyadarkan Mansa namun tidak berhasil.

Mansa mematung, mulutnya diam namun matanya mengatakan semuanya. Rasa takut terpancar dari pupilnya. Melihat manusia lain diambang kematian memiliki dampak lebih buruk dari pada melihat satu yang telah tiada tanpa menyaksikan prosesnya. Sebuah pengalaman yang tidak semua orang dapat mencernanya dalam waktu singkat.

“MANSA, HOI!!” teriak Erlan lebih kencang.

“Eh,” Mansa tersedak bangun.

“Liat gue sini!” bentak Erlan, kemudian mata mereka terkunci, "Lo harus kuat, Man! Kita musti selamat dari sini! Dan itu gak mungkin bisa dilakuin kalo lo diem aja!"

“So-sorry, Lan. Gu-gue..“”

“Tarik napas dalem, buang,” Suruh Erlan, “Lakuin, lagi.” Erlan menyuruh semua itu sembari tangannya tetap memompa jantung Pak Man.

“Iya, kita harus bisa selamat!“ ucap Mansa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kecil.

“Bagus. Gue butuh bantuan lo,”

“Siap, gue harus ngapain?“

“Lo coba itu PA masih nyala apa enggak? Biasanya alat itu pake sumber listrik sendiri, gak sama dengan Bus,” ucap Erlan tampak terengah sembari meneruskan resusitasi.

“Ok, Lan,” Mansa merubah posisi badannya sehingga bisa menggapai mic pengeras suara Bus. “Tes. Tes.” Suara itu keluar dari pengeras suara yang tersebar di badan bus, “Bisa nih. Walau agak pecah sedikit," Ucap Mansa.

“Sekarang teriak yang kenceng pake mic itu, Man. Abis itu kasih gue," Suruh Erlan.

Mansa tanpa ragu langsung mengambil nafas panjang dan berteriak, “WOII!!” suara itu menggema hingga belakang bus, hening pun datang, “Perhatian sebentar, teman-teman!” lanjut Mansa sembari memberikan mic itu ke Erlan.

“Pegangin, Man,” Pinta Erlan, “Teman-teman sekalian, Jangan Panik. Gue ulangin, jangan panik. Gue akan selamatkan kita semua,” Ucap Erlan melalui pengeras suara itu.
“Percaya diri lu bahkan masih keluar di momen kayak begini?” tanya Mansa, sembari menutup mic itu.

“Di saat seperti ini mereka butuh harapan, Man. Supaya bisa lebih tenang. Percaya sama gue,”

“Harapan? Gak nyangka, lu bisa sampe ke sana mikirnya.” Ucap Mansa kembali menyodorkan mic itu kepada Erlan,

Erlan melanjutkan, "Pertama, bus ini terbalik dan kalian dalam keadaan tergantung oleh sabuk pengaman di kursi masing-masing. Kedua, cari barang apapun itu yang bisa mengeluarkan cahaya, handphone, senter kecil, jam tangan digital atau apapun. Ketiga, jangan begerak, Mansa akan membantu kalian satu-persatu,"

 “Gue, Lan?” Mansa kaget,

“Iya elo! Masa tukang parkir sekolah,”  Jawab Erlan yakin.

“Yang bener aja? Bisa apa gue?”

“Bantu yang laki dulu. Kemudian minta dia bantu lo lepasin yang lain. Potong aja kalo sabuk pengamannya nyangkut, Oke?”

“Iy-ya.” Jawab Mansa gugup.

“Dan Bu Anjali jangan dipindahin dulu,"

“Terus bawa ke mana?”

“Bawa mereka ke bagian depan sini, tempat ini sekarang merupakan tempat yang cukup datar, kumpulin di sini semua,”

Wish me luck!”Ucap Mansa seraya bergerak ke arah salah satu murid yang memancarkan cahaya dari telefon genggamnya. Sementara, Erlan melanjutkan upaya resusitasi untuk menolong, Pak Man.

***

Empat puluh menit telah berlalu, dan semua murid telah berhasil dibebaskan dari kursinya. Mereka syok dengan kejadian naas ini, masing-masing berusaha saling menguatkan. Beberapa memposisikan dirinya berdiri sendiri, dan sebagian lain memilih berkelompok duduk di bagian depan bus yang cukup lowong. Beberapa senter dan barang-barang lain yang dapat mengeluarkan cahaya telah dikumpulkan di depan. Sebuah lampu darurat dinyalakan di antara mereka, memberikan cahaya redup namun cukup.

“Pak Man gimana, Lan?” tanya Mansa khawatir.

“Sorry, Man. Gue udah berusaha semaksimal mungkin, tapi kita kehilangan dia,” Jawab Erlan dengan nada berat.

“Ya ampun, Tuhan,” Mansa terhuyung lemas dan hampir jatuh ke tersungkur jika tidak ditahan oleh Cinta dari belakang.

“Mansa, kamu kenapa!?” tanya Cinta cemas

“Pak Man udah gak ada, Cin…” jawab Mansa terisak tangisnya.             

Ekspresi Cinta tampak tidak bergeming, tidak banyak berubah, “Erlan udah usaha sebisanya. Tapi takdir berkata lain, mau gimana lagi,” Ucapnya menenangkan.

“Betul, Man. Kita harus pikirin bareng-bareng cara keluar dari bus ini dengan selamat,”

“Erlan bener, Man. Kita harus bisa cari jalan keluar," Ucap CInta.

“Tapi jangan disebar dulu soal ini, biar gak jadi tambah down yang lain,”

“Ya, terus kita harus apa?” tanya Mansa.

“Gue butuh termos, ada yang bawa termos besi gak?” tanya Erlan.

“Buat apa?” tanya Mansa merasa ganjil.

“Buat kita mindahin, Bu Anjali. Kakinya kayaknya patah. Gue mau buat bidai biar stabil dan bisa kita pindahin,” Erlan Menjelaskan.

“Aku bawa, Lan!” Ucap Cinta menyambut pertanyaan Erlan.

“Bisa lo ambil gak?” tanya Erlan cepat.

“Ah, tapi tas aku gak tahu di..mana,” jawab Cinta lemas.

“Iya semua tas udah gak jelas ada di mana,” Ucap Mansa.

“Gimana dong? Aku bantu apa?”

“Intinya gue butuh, sesuatu yang kokoh untuk membuat semacam penyangga. Oiya, gue juga butuh ikat pinggang elu, Man,"

“Eh gimana?” tanya Mansa bingung.

Cinta memainkan senternya ke beberapa penjuru bus untuk mencari sesuatu, “Kalau ini bisa, Lan?” tanya Cinta .

“Besi itu?”

“Iya, besi penyangga buat penyimpanan barang di atas kepala. Bisa, kan?”

“Ya bisa, tapi gimana cara—“ tanya Erlan ragu.

Cinta menggigit senternya, kemudian melangkahkan kakinya dengan lincah berpijak pada tumpukan tas dan bangku. Dengan cepat, tubuhnya yang mungil kini berada di depan rangkaian besi-besi yang ia tunjuk tadi. Tangan kirinya memegang salah satu ujung besi itu sementara tangan kanannya mengambil kuda-kuda untuk memukulnya. Cinta menarik nafas panjang.

“Eh yang bener nih, Cinta?” Erlan kaget bercampur heran.

“Tenang, Lan. Cinta itu—“

Omongan itu terpotong oleh suara besi yang patah, dua kali, “—Kuat.“ Mansa menyelesaikan kalimatnya.

Cinta melompat kembali dengan tanpa keraguan, “Ini Lan,” ucapnya memberikan dua buat selongsong besi kurang lebih sama panjang, “Cukup kan?”

“Makasih  Cinta. Ini lebih dari cukup," Jawab Erlan. ”Ikat pinggang, Man. Cepet!”

Mansa tampak jengkel namun tetap mengikuti permintaan aneh temannya, “Ini, mau diapain, sih?”

“Tolong sekalian bantu ya, Cinta.” Pinta Erlan sembari perlahan bergerak ke samping Bu Anjali yang masih pingsan dan tergantung di kursinya.

“Ya aku siap nih,” Ujar Cinta.

“Sementara gue pegang, Cinta posisikan dua besi itu di samping kaki kanan bu Anjali sesuai aba-aba ya,” Suruh Erlan yang kemudian menarik lurus kaki Bu Anjali, “Ayo, sekarang!”

Cinta menggerakan perlahan kedua patahan besi tersebut ke tempat arahan Erlan, “Udah, Lan,” Ucap Cinta .

“Terus, Mansa bebat pake iket pinggangnya. Yang kenceng!”

Mansa meliliti kedua besi tersebut dengan ikat pinganggnya dan menguncinya kuat. “Udah cukup belum nih?” tanya Mansa,

“Kayaknya udah,” Jawab Erlan melepaskan pegangannya, “Tinggal kita lepas sabuk pengamannya. Kalian siap-siap tangkep badan Bu Anjali ya,”

“Oke!” Jawa Mansa dan Cinta berbarengan.

Erlan menghitung aba-aba, “Satu..dua.. tiga! Tangkep!” serunya.

***

Lebih dari dua jam telah berlalu. Penerangan di dalamnya semakin berkurang, hanya tinggal lampu emergensi dengan seperempat baterai pada indikatornya. Udara dalam bus menjadi sangat lembab dan panas hampir tidak bisa ditolerir lagi oleh murid-murid di sana. Ada yang masih menangis sendu, ada yang merintih kesakitan karena cidera yang diderita dan ada yang hanya terdiam dengan tatapan kosong. Sebuah gambaran putus asa massal.

“Lan, gue dah jalanin permintaan lu dan coba semua handphone yang ada, tapi gak ada yang dapet sinyal sama sekali," Ucap Mansa.

“Ok. Kalau kaca belakang gimana, Cin?”

“Kaca belakang cukup tebal, Lan. Kalaupun aku bisa pecahin tapi ada kerangka besinya yang menghalangi kita untuk keluar," Keluh Cinta.

“Dan kaca depan kita dihalangin sama batang pohon besar itu. Ya, walaupun berkat pohon itu juga kita bisa berhenti sih,” ucap Erlan menerangkan.

“Gimana nih, Lan?”

“Buntu, berarti," Ucap Erlan dengan nada kecewa, “Sementara kita butuh jalan keluar yang cukup lebar dan aman, karena kita akan bopong bawa Pak Man dan Bu Anjali,”

“Setidaknya kita bisa minta menunggu bantuan dari luar, kan,”

“Masak lo gak perhatiin, Man?”

“Apanya?”

“Pertama kita ini bus paling akhir, jadi gak ada lagi bus di belakang kita yang akan lewat terus ngebantu kita,”

“Ya, kan kita bisa tunggu kendaraan apa gitu lewat,”

“Bukan gitu,"

“Eh, gimana maksud lu?”

“Kedua, Ini udah hampir dua jam lebih, belum ada kan kendaraan lewat dari sisi kita maupun jalur lawan arah?”

“Wah, bener juga,"

“Kalau dari sisi kita bisa saja tertahan akibat truk container tadi juga terbalik atau gimana lah. Tapi kok dari yang sisi lawan arah gak ada kendaraan yang lewat?” ucap Erlan menguraikan kekhawatirannya, “Itu yang gue takutin,”

“Takutin apa?? Aku jadi merinding nih dengernya," Ucap Cinta cemas.

“Berarti ada yang mem-block  transportasi dari kedua jalur,” Ucap Erlan khawatir.

“Yang bisa kayak gitu apa Lan?” tanya Mansa.

“Long—“


Kalimat tersebut terpotong oleh suara gemuruh dan getaran dari pinggir lereng. Sebuah ombak dari lumpur dan batu menyapu Bus yang mempunyai berat beberapa ton ini, membuatnya bergerak perlahan tapi pasti. Hampir lima menit aliran longsor terus mengalir. Sehingga bus pun begeser beberapa meter dari lokasi awalnya, dan seluruh badannya kini telah tenggelam dalam lumpur coklat.

***











By: @AnakPetir

0 Komentar... Mau menambahkan komentar?

Berikan Komentar Anda:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]