Chapter 5 Sayap Besi: Cahaya

@romiyooo / Selasa, 29 Maret 2016



Tangan kanan Erlan melayang cepat. Bertemu dengan pipi kiri seorang perempuan yang terkulai tergeletak lemas di hadapannya. Bunyi tamparan menggema di dalam bus itu. Memecah kesunyian yang telah menempati setiap sudut.

“Bangun!” seru Erlan, seraya mengguncangkan bahunya kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Annisa! Dengerin gue, apa yang lo rasain?”

Annisa masih sadar, matanya terlihat terbuka lebar. Ia mencoba membuka mulutnya, menggerakan bibirnya, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya terlihat seperti lapar akan udara. Tak lama kemudian bibirnya mulai membiru. Dadanya bergerak secara sporadik. Tiap gerakan menghasilkan nyeri yang terpancar dari raut mukanya dan air mata yang ia teteskan.

“Nisa ta-tadi jatuh pas bus ini geser karena longsor,” ucap seorang perempuan menangisi keadaan temannya. Ia hanya bisa berlutur diam dan menutupi mulutnya dengan kedua tangan, “Aku gak liat dia kena di mana...”

“Pulpen, saya butuh pulpen besi!” teriak Erlan meminta tolong, kemudian Erlan merobek beberapa kancing kemeja yang dikenakan Annisa menyibakkan dada kanannya, “Sorry Nisa, bukannya gue mau lancang,”

“Aku gak nemu pulpen besi, Lan,” Ucap Cinta sembari mengobrak-ngabrik semua tas yang bisa ia gapai, “Kita semua mau liburan, gak ada yang bawa pulpen,” Lanjut Cinta.

“Bu Anjali, dia selalu bawa pulpen di blazernya, pulpen para guru di sekolah kita dari besi tuh,” Ucap Erlan.

“Maksud lu yang ini?” tanya Mansa sembari menyerahkan pulpen berwarna silver.

Nice, Man,” Erlan menyambar pulpen itu dari tangan Mansa, “Tolong yang gak kuat jangan liat,” Erlan mengosongkan isi pulpen itu dengan terburu-buru. Jarinya meraba perlahan di dada Nisa bagian kanan atas.

Are you sure with whatever you’re gonna do?” tanya Mansa.
“Iga kedua? Ketiga? Atau keempat?” Gumam Erlan mengacuhkan pertanyaan Mansa.

“Lan, please answer..” pinta Mansa.

“Annisa ini pneumothorax, Man. Paru-parunya bocor, udara keperangkap gak bisa keluar dari situ. Gue mau nyelametin dia,

“Caranya?”

“Jangan ganggu dulu. Gue lagi mencoba inget semua episode House dan Gray’s anatomy yang pernah gue tonton,

You are basing your action on a Television series? WONDERFUL!” ucap Mansa kesal dan sarkastik.

“Gak ada jalan lain,” Ucap Erlan yakin kemudian menarik nafas panjang dan membuangnya, “Oke, Oke. Oke.” Erlan menangkan dirinya sendiri.

“Itu sebenernya pulpen mau diapa—“ tanya Mansa tak selesai.

Tangan Erlan menggenggam erat pulpen itu dan melesat kencang ke dada Annisa bagian kanan atas. Pulpen itu menancap cukup dalam, masuk setengah badan. Raungan kencang lepas memekakkan telinga semua penumpang bus. Suara udara keluar melalui celah sempitter dengan jelas seperti ban yang dibocorkan hingga kempes. Tarikan napas yang agak terengah menandakan paru-parunya telah berfungsi kembali. Bibirnya pun kembali memerah.

“Good. Good. Haha! Good!” Erlan tampak takjub dengan keberhasilannya sendiri.

 “Erlan, kamu hebat banget!” ucap Cinta gembira sembari menutupi Annisa dengan sebuah jaket,

“Cinta, pastikan Annisa duduk dan bernafas dengan pelan,” Suruh Erlan.

You sure are one hell of a guy,Lan,” Ujar Mansa sambil menepuk punggung Erlan.

“Tapi masalah besar kita belum sedikit pun punya titik cerah, Man.”

***

Masuk ke dalam jam keempat setelah bus terbalik. Hujan telah reda, matahari mulai mengintip dari balik awan. Lereng tebing hampir setinggi 8 meter itu kini telah runtuh dua pertiganya. Tanah lumpur, batu-batuan dan patahan pohon bercampur seperti adonan. Bus yang mereka tumpangi telah bergeser hingga tengah jalan karena tersapu longsoran, dan posisinya masih terbalik sembilah puluh derajat. Kini timbunan longsor telah menyelimuti bus itu secara keseluruhan, lapisannya cukup tebal sehingga sulit untuk keluar masuk suara ataupun cahaya.

Atmosfir di dalam bus terasa semakin berat dan kelam. Beberapa telefon genggam telah habis batre membuat pencahayaan semakin minim. Nafas Annisa semakin lemah, tarikannya dangkal dan menyakitkan. Bu Anjali masih belum sadar, hanya sesekali merintih, kakinya semakin bengkak. Mayat almarhum Pak Man telah masuk ke dalam rigor mortis.

Erlan duduk termenung, tangan kanannya menutup mukanya sementara tangan kirinya bergerak-gerak seperti menulis di udara. Kakinya naik turun menghentak-hentak. Sesekali ia berbicara sendiri, kemudian ia marah sendiri. Sementara Mansa, Cinta dan murid lainnya sibuk menyortir setiap tas yang mereka temui, mengeluarkan isinya satu persatu. Mereka mencari barang yang diminta Erlan.

“Erlan, mungkin ini bukan waktu yang pas,” Ucap seorang lelaki berjalan agak merunduk untuk menghampiri Erlan, “Dan memang gue gak kenal lo, tapi...” lanjutnya.

Erlan merasa terganggu dan meliriknya tajam, “Ya? Lo punya ide biar kita bisa keluar dari bus ini?”

“Eh,” lelaki itu kaget, “Gue cuman mau bilang—“

“Kalau nggak ada ide, simpan kata-kata lo itu. Jangan buang waktu gue,” Ucap Erlan sinis,

Lelaki itu tampak jengkel, “—terima kasih.” ucapnya pelan.

“Lo tahu gak sih, berapa volume bus ini?” Erlan berdiri mendekatinya, menatapnya tajam, “Tahu kira-kira berapa liter udara yang ada di sini?” Erlan membombardir lelaki itu dengan pertanyaan.

Lelaki itu terdiam, jelas di benaknya bukan hal ini yang ia harapkan terjadi, “G-gue gak tahu..” jawabnya lemah.

“Tahu berapa konsumsi oksigen manusia permenitnya?” Mata Erlan terbelalak marah, “Tahu berapa banyak waktu yang kita punya? HAH!?” bentak Erlan kencang,

Kenyataan itu disajikan seperti pil pahit ke setiap murid yang ada. Kegelisahan mulai meresap ke pemikiran murid-murid itu. Pertanyaan dan keraguan tumbuh subur di alam sadar mereka. Fakta bahwa bus ini telah sepenuhnya tenggelam dalam lumpur sudah lama di benak mereka. Namun, pertanyaan apakah udara masih bisa bersikulasi barulah muncul. Pertanyaan itu bagai domino yang jatuh. Menimbulkan pertanyaan berikutnya, berikutnya dan berikutnya hingga terhenti pada hal paling dasar. Naluri manusia untuk bertahan hidup.

‘Apakah aku bisa selamat.’
‘Kalau aku mati bagaimana.’
‘Aku belum siap mati.’

“Hey, Doni! Erlan! Sudah sudah,” lerai Mansa, sambil menuntun temannya menjauh dari Erlan, “Ini bukan saatnya kita berantem satu sama lain, Don,
Cinta menghampiri Erlan untuk menenangkannya, “Lan, kamu baik-baik aja?”
Erlan kembali duduk dan memejamkan matanya, “Biarkan gue berpikir Cin, tolong cari aja itu,” Ucapnya seraya menutup kembali mukanya dengan tangan kanan.

“Semua lagi mencari, Lan. Ini kita berjuang sama-sama,

“Cari, atau nggak ada peluang sama sekali,” Ucap Erlan dengan suaranya yang bergetar,

Cinta berlutut di depan Erlan. Ia menggapai tangan Erlan yang menutup wajahnya, menariknya dan menggenggamnya, “Jangan membebani diri kamu, seakan-akan ini semua salah kamu, Lan,

Erlan mencoba menarik tangannya kembali, namun  hal itu sia-sia. Ia lupa kalau Cinta itu kuat. “Gue udah liat tanda-tanda itu, tapi gue memilih diam, Cin,” Ucap erlan menjelaskan.

Mata Cinta menatap Erlan dengan kuat dan dalam. Tatapan itu berhasil masuk ke dalam tembok pertahanan perasaan Erlan. “Kamu liat apa?”

“Gue udah liat senyum gak simetris pak Man, gaya jalannya yang agak lain dan mukanya berkeringat lebih banyak disebelah kanan,” Ujar Erlan matanya sendu,
“Terus?” tanya Cinta.

“Itu tanda-tanda dia udah pernah kena stroke Cinta. Mungkin tadi itu serangan lagi makanya bus ini...” Jawab Erlan dengan nada lemah. Air mukanya berubah semakin menyiarkan penyesalan.

Nggak ada yang kamu bisa lakuin juga, Lan,” Jawab Cinta mencoba menenangkan Erlan.

Enggak, Cin, “ ucap Erlan terbata, “Mungkin gue bi—“ lanjutan kalimat Erlan terpotong oleh jari telunjuk Cinta yang  menempel pada bibir Erlan, menghalanginya untuk bergerak. Erlan kaget bagaikan diserang tiba-tiba. Ia hanya bisa terdiam.

“Yang kamu lakukan buat kita itu udah lebih dari cukup, Lan. Nyelametin kita dari tabrakan dengan truk. Nolong bu Anjali. Bahkan nyelametin nyawa Annisa juga itu kamu,” Ucap Cinta sambil terseyum menatap Erlan. Tak ada jawaban balik dari Erlan, hanya hening yang terdengar.

“Ada lagi yang kamu mau ceritain? Jangan dipendam sendiri,” Tanya Cinta, sembari melepaskan jarinya dari bibir Erlan.

“Terus tadi kayaknya gue udah denger suara—“ ucap Erlan.

“KETEMU!!” teriak salah seorang murid dari bagian belakang bus memotong kalimat Erlan. “KETEMUU!!” ia meneriakkannya untuk kedua kali dengan seluruh udara yang ada di paru-parunya, seperti menemukan harta karun. Semua kepala bertolak ke arah belakang bus.

***

“Semua udah di posisi sesuai permintaan lu, Lan,” Lapor Mansa, sambil memegang tiga buah silinder kecil dengan motif berwarna-warni, “Elu ngapain itu meriksa almarhum lagi, Lan…?” lanjut Mansa bertanya.

“Bagus, tinggal gue ambil,” ucap Erlan seraya menepuk-nepuk kantung baju dan celana almarhum Pak Man, “Ah ini dia!” ujar Erlan sambil mengeluarkan sebuah korek api dari salah satu sakunya, “Saya pinjam ya, Pak,

“Jadi kembang api air mancur ini buat apa, Lan?” tanya Mansa seraya menerima korek itu dari Erlan.

“Di rundown acara pariwisata kita bakal ada sesi api unggun dan kembang api dari tiap kelas.” Jawab Erlan sedikit melenceng dari pertanyaan. Kini ia telah bergerak dan berada di samping Bu Anjali yang masih tidak sadarkan diri, ”Maaf ya Bu, saya pinjam ini,” Ucap Erlan ke Ibu Anjali.

“Eh, bentar kok gak nyambung?” Mansa bingung.

“Namun untuk safety, pasti kembang api yang dipake, disediain dari sekolah,” Tutur Erlan lanjut menjelaskan, sembari tangannya melepas sepatu berhak sebalah kanan yang dipakai Bu Anjali, “Paling-paling jenis sparkles yang kayak bunga api atau jenis air mancur. Sesuai yang ditemukan oleh...”kalimat Erlan terhenti, ia menatap bingung ke arah lelaki yang menemukan tas berisi kembang api ini.

“..Reja.” Mansa menyelesaikan Kalimat Erlan.

“Betul, Reja. Hebat dia.”

Ah, I get it, you love to explain things, right?” ucap Mansa sambil menganggukkan kepalanya.

“Ini esensial, Man,” Balas Erlan cepat,

“Lu tahu dari mana itu stok kembang api ada di dalam bus, bukan disimpen di bagasi bus?”

“Di sini kadang gue sedih, Man,” Ucap Erlan meremehkan.

Ok, Now you are sad? I’m confused.

“Itu kan kembang api. Mana mungkin di taruh di bagasi bus yang deket dengan mesin dan segala sesuatu yang dapat terbakar di sana?”

“Bener juga lu, ”

“Jadi, inilah harapan kita, ucap Erlan yakin.

“Coba diperjelas, Lan.” tanya Mansa memancing lagi.

“Waktu kita gak banyak, Man. Sambil kita praktekin aja,” Jawab Erlan sambil bergerak pelan ke menuju tengah bus. Melewati tumpukan tas dan barang tak keruan lainnya.

“Pake sepatu ini Cin,” Ucap Erlan kepada Cinta sambil melemparnya.

Tangan Cinta dengan cekatan menangkap, “Siap!” teriaknya kemudian mulai mengenakan  sepatu itu tanpa pertanyaan sama sekali.

Cinta berada di belakang bus bersama dua orang murid. Wajahnya serius, pandangannya fokus tanpa keraguan. Tangan kanan dan kiri Cinta bertumpu pada masing-masing pundak temannya. Salah satu kakinya berpijak pada lengan bangku. Sebuah posisi kuda-kuda yang cukup janggal.

“Sekarang apa, Lan?” tanya Mansa.

“Tolong semua diam ya!” teriak Erlan, “Pasang kuping kalian,

Keheningan belum pernah terasa seperti ini, suara ludah yang tertelah dan bahkan gemeretuk gigi pun bisa terdengar. Letih mental dan fisik membuat setiap murid sulit berkonsentrasi. Namun tiba-tiba, suara bising yang berulang terdengar samar. Suara itu terasa jauh karena teredam oleh lapisan lumpur yang menyelimuti bus ini. Sebuah suara yang familiar. Suara desir baling-baling helikopter.

“Lan, itu kayak suara—“

“Helikopter SAR.  Mereka balik lagi,

“IYA!” Mansa gembira,

“Itu yang gue tunggu, Man. Negara kita punya tim SAR yang responsive. Apalagi ini merupakan jalan lintas pulau yang utama. Bencana kayak gini pasti beritanya akan cepat sampai begitu juga misi penyelamatannya,” Jawab Erlan tenang.

“Sekolah kita juga pasti udah sadar kalo bus kita ketinggalan. Mereka pasti cari tahu juga,” Ucap Mansa bersemangat.

“Sebelumnya gue denger mereka tapi samar banget dan hilang. Gue tahu mereka pasti akan balik,

“Tapi apa mereka bisa lihat kita?” tanya Mansa.

“Dengan tertimbun longsor? Nggak mungkin,

“Terus gimana?”

“Kita harus bisa kasih tahu posisi kita, jawab Erlan Cepat.

“Caranya?”

“Cinta, kita bisa mulai kapan pun!” teriak Erlan, “Mansa, tunggu aba-aba gue,” lanjutnya.

Kaki Cinta bertolak dari pijakannya, bergitu juga tangannya. Badannya terangkat keatas. Dengan cepat Cinta menghempaskan kepalanya kebelakang, sehingga badannya menjadi titik putar. Kakinya menanjak naik dengan cepat. Sebuah tendangan bulan sabit mendarat dengan keras di salah satu kaca jendela samping bus yang kini berada di atas mereka karena posisi bus telah terbalik. Ujung runcing sepatu itu menusuk kaca, meretakkannya tanpa kesulitan. Kaca itu pecah berkeping-keping.

Cinta mendarat sempurna setelah berputar 360omengakhiri gerakannya dengan luwes bagaikan atlet senam olimpiade.

“Oh! Seperti palu darurat untuk memecahkan kaca !” seru Mansa setelah melihat maksud Cinta memakai sepatu hak Bu Anjali, “Jenius, Lan!”

Bongkahan tanah bercampur batu terjun dari lobang kaca pecah di atas mereka. Cukup banyak bahkan hampir menutupi bangku yang berada di bawahnya. Namun tidak terlihat secercah cahaya yang masuk.

“Cinta coba lihat, tembus keluar apa enggak?” suruh Erlan.

Cinta menggunakan gundukan tanah yang jatuh sebagai keuntungannya. Ia menjadikannya sebagai pijakan untuk menggapai jendela itu. Berbekal spotong besi, ia menusuk-nusuk tanah itu sekuat tenaga. Namun hasilnya nihil.
“Bagian sini terlalu tebal lumpurnya, Lan.” Ucap Cinta sembari turun.

“Kita coba di tengah sini sekarang,

“Ok, Lan,

Kuda-kuda yang sama janggal, tendangan bulan sabit yang sama indah. Kaca berikutnya pun pecah jatuh berkeping-keping. Batu dan gumpalan tanah bercampur berhamburan ke dalam bus. Namun lagi-lagi, tidak ada tanda cahaya yang dapat masuk.

Tanpa aba-aba dari Erlan, Cinta sudah membawa dirinya mendaki timbunan tanah itu. Ia menusuk tanah itu satu kali. Dua kali. Tiga kali. Akhinya sekilas cercah cahaya masuk kedalam bus. Sesuatu yang telah ditunggu-tunggu oleh Erlan.

“LAGI CINTA!” teriak Erlan kencang. “Mansa bersiap bakar sumbunya!” lanjutnya.

Cinta mengumpulkan semua tenaganya dan  memberikan beberapa puluh tusukan pada tanah yang tersisa itu.Bagian demi bagian tanah lepas. Perlahan-lahan jumlah cahaya yang masuk mulai bertambah, badan bus menjadi lebih terang. Tak hanya itu, suara baling-baling helicopter kini terdengar lebih jelas. Angin segar pun masuk menggantikan udara yang sumpek di dalam bus.
“Cukup itu, Cinta!”

Rasa gembira luar biasa tersurat oleh teriakan murid-murid memanggil helicopter itu. Bahkan ada yang mempunyai akal untuk membunyikan klakson bus terus menerus. Air mata tak terasa membajiri hampir seluruh muka mereka. Peluk hangat dan haru saling berganti terjadi. Beberapa dari mereka sampai-sampai tak bisa menyuarakan kalimat, hanya tangis bahagia disertai gumaman yang terdengar tidak masuk akal.

“Helikopter itu tidak akan mendengar kita, teman!” ucap Erlan dengan wajah datar seperti memupuskan harapan teman-temannya. Semua wajah kini memusatkan perhatiannya kepada Erlan. Suasana bahagia itu tiba-tiba terhenti. Beberapa dari mereka masih dalam isak tangisnya.

 “Namun mereka pasti lihat air mancur warna-warni!” Lanjut Erlan dengan senyuman lebar memberikan kode kepada Mansa.

Mansa yang telah berada di dekat jendela itu menyulut beberapa sumbu dengan sebuah korek. Ia melempar tiga buah air mancur keluar jendela itu.

Obor harapan yang telah padam kini telah berkobar kuat menyala dalam warna-warni yang indah.










By: @AnakPetir

0 Komentar... Mau menambahkan komentar?

Berikan Komentar Anda:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]