#LingkarTulisan "Nomor Dua Puluh" [4]

@romiyooo / Jumat, 25 Maret 2016


"Masih tersusun rapih siluetmu di sisi-sisi ingatanku. Membaur bersama segala tawa dan senyum kita, layaknya rentetan adegan di sebuah film paling romantis yang pernah ada.

Atas nama segala kenangan yang pernah kita lalui, melupakanmu adalah perkara mustahil. Seharusnya aku tersadar sejak awal ketika kita bertikai, bahwa ego dan kekerasan kepala kita tak harus berujung luka.

Namun apa daya jika pergi adalah pilihanmu yang kedua, setelah pilihan untuk bertahan sudah tidak ada di sana. Aku masih membungkam realita bahwa senyummu sudah tidak di sini, bahwa seluruhku yang ada padamu telah membunuh dirinya sendiri, karena kebodohan yang tak termaafkan lagi.

Aku sebenarnya juga ingin sepertimu, yang sudah memaafkan masa lalu, membiarkan aku dan kamu hanya sekadar kita tanpa ada apapun di dalamnya. Namun aku masih saja melewati jalan yang sama, duduk di kursi tempat kita saling bercerita, memesan kopi yang telah kita sepakat untuk suka, dan aku masih saja di sana, di seutuhnya kita.

Terima kasih, walau aku akan tetap masih mengendapkan namamu di dalam aku. Terima kasih, pernah menjadi semenyenangkannya hari di dalam seburuk-buruknya aku."

***

Postingan salah satu blogger favorite aku emang selalu bagus. Walaupun tiap membaca tulisannya, aku malah hanyut merasakan lukanya. "Ah, Nana. Kamu kan memang habis terluka." Gumamku setelah membaca tulisan berjudul "Masih". Aku penasaran, siapa sosok di balik tulisan-tulisan ini. Entah kenapa aku malah menggerutu sendiri " Komputer, tunjukin dong siapa orang yang menulis semua ini.. Huhuhu.". Aneh yah, aku malah ngomong sama LCD layar datar dan CPU hitam yang menyala hijau di bagian tombol power-nya ini.

"Clik"
Tiba-tiba komputer yang aku ajak ngobrol ini mengeklik sebuah file padahal aku tidak melakukan apapun. Apa jangan-jangan komputer ini rusak atau kena virus?? Sekarang komputer ini menjelajah sendiri. Dan, AKU TAKUT.
Data C: terbuka, lalu cursor komputer menuju file Windows. Dan muncul tab baru berlatar hitam yang mengeluarkan kode-kode yang aku tidak mengerti. Sepertinya komputer ini benar-benar kena virus.
Setelah barisan kodenya hilang, layar menuju dekstop dan memunculkan file JPEG dengan nama file "Klik di sini".

" INI KENAPA YA TUHAN!" Aku mulai panik.

Sepertinya aku harus bergegas menuju operator warnet ini daripada aku dituduh merusak komputer yang padahal aku sendiri tidak melakukan apapun. Baru setengah badanku bangkit, tiba-tiba cursor di layar berjalan menuju file itu, dan..... TERBUKA!

***

"Ah, akhirnya setelah beberapa hari ruangan warnet panas, hari ini jadi adem banget, bahkan lebih adem daripada senyumnya Pevita Pearce."

AC yang baru dibenerin ini jelas adalah salah satu nikmat Tuhan yang patut disyukuri, karena beberapa hari lalu cuaca panas ditambah AC rusak membuat gue dehidrasi dan hampir punah dari peradaban.

"Ngiiiiikkk..."

Ciri khas dari pintu warnet ini adalah bunyi "Ngiiikkk.." ketika ada orang yang membukanya. Pernah waktu itu malam hari, gue lagi di nomor dua puluh. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar bunyi "Ngiiikkk..." beberapa kali, yang harusnya kalau ada pengunjung bunyi "Ngiiikkk..."-nya cuma sekali. Pas gue cek ternyata ada seseorang yang datang membuka pintu dan seekor tikus tak berdosa kejepit di bawahnya. Sampai ia meninggal seketika di TKP. Semenjak saat itu, gue kalau ngeliat tikus langsung inget tikus yang kejepit pintu itu. Membayangkan bagaimana nasib keluarganya yang telah ia tinggalkan. Ini kenapa malah jadi ngomongin tikus.

" Mas, nomor dua puluh kosong?"
Seorang wanita berambut panjang, dengan pakaian rapih yang kira-kira umurnya sudah 26 tahun ini langsung nodong mau ke nomor dua puluh. Tapi perasaan, gue nggak pernah ngeliat wanita ini deh. Kok bisa langsung minta ke nomor dua puluh yah. Atau mungkin dia mau ketemu temennya.

"Mas?"

"Oh ya, nomor dua puluh kebetulan lagi ada yang pake, Mba,"

"Yaudah, saya tunggu di depan ya," dia melangkahkan kaki ke depan warnet yang memang gue sediakan bangku panjang untuk menunggu.

"Tapi ada beberapa yang kosong kok, Mba. Nomor 17 kosong dan komputernya baru. Masih bagus banget," Gue menawarkan selayaknya operator warnet profesional yang sudah berpengalaman puluhan tahun.

"Oh, enggak deh, Mas. Saya nunggu aja," Dia melengos.


"Oke, Mba." Gue gagal menjadi operator warnet profesional.

Aneh juga sih ada orang yang langsung nodong ke nomor dua puluh padahal kayaknya dia nggak pernah ke sini. Dan ternyata dia bukan mau nemuin orang yang lagi pake nomor dua puluh. Atau mungkin dia pengin di posisi pojok supaya bisa.....nyender.

Billing nomor dua puluh sudah habis waktu. Langsung gue panggil Mba-mba yang tadi dong.

"Hai, Mba. Nomor dua puluh udah selesai nih," Teriak gue sambil membuka pintu.

"Wah, oke mas."

Pas gue berbalik untuk duduk di singgasana gue, tiba-tiba pengunjung wanita dari nomor dua puluh setengah berlari menuju gue dan teriak "NALDO??".


 ***






 Episode sebelumnya -----> http://katakatakori.blogspot.co.id/2016/03/lingkartulisan-nomer-dua-puluh-2.html

0 Komentar... Mau menambahkan komentar?

Berikan Komentar Anda:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]