#LingkarTulisan "Nomor Dua Puluh" [2]

@romiyooo / Jumat, 18 Maret 2016

Source: Google


“Kau benar, nomer dua puluh adalah komputer yang sangat bagus. Rasanya seperti menghabiskan waktu dengan seorang teman. Saya merasa lebih tenang. Terima kasih atas rekomendasinya.”

Bapak-bapak yang tertera di billing bernama Kartono ini memberikan uangnya sambil tersenyum sangat bahagia. Gue curiga bapak ini abis menang judi online atau semacamnya. Atau jangan-jangan beliau abis nonton video klip girlband Korea. Iya, gue kalau abis nonton video klip girlband Korea selalu senyum bahagia soalnya. Ah, tapi mau gimana pun gue ikut bahagia ngeliat senyum bapak-bapak tadi. Bukannya apa-apa sih, soalnya dia ngasih uang tip. Rezeki anak soleh.

Karena AC rusak dan cuaca yang panas, suhu ruangan bahkan lebih panas dari api cemburu. Biasanya kalau menuju siang gini gue udah sedia kopi dan cemilan, tapi kali ini di depan gue malah ada air dingin ditambah kipas yang lama-kelamaan bakal bikin masuk angin. Tapi gue masih bersyukur walaupun cuaca sedang panas, tetap ada pelanggan yang datang. Sebagai seorang CEO yang merangkap jadi Office Boy warnet, kegiatan gue nggak cuma duduk - nunggu pelanggan - melihat billing - terima bayaran. Ya selain kegiatan itu, gue juga suka nulis di blog, gue nulis tentang kejadian-kejadian menarik (Re: aneh) yang terjadi sehari-hari tapi di luar kehidupan warnet, kehidupan gue “yang lain”. Seperti biasa, gue selalu melihat komen-komen di blog yang kadang memang bikin lebih semangat nulis.

“Cinta terkadang memang sebercanda itu. Bang Naldo, tetap semangat ya nulisnya”

Salah satu komen di blog gue ini menarik perhatian gue. Wah, memang cinta bisa bercanda ya? Kebetulan dia komen di postingan gue yang ngebahas tentang cinta. Kira-kira, begini isi postingannya.

***

Berlalu ke Masa Lalu

Aku duduk di salah satu kafe di Jakarta Selatan, duduk sendirian sembari menyesap kopi yang sedari tadi tak sengaja ku diamkan karena pikiranku sedang bermain-main dengan kenangan. Lampu bercahaya kuning tak terlalu terang menabrak warna coklat kursi dan meja di dalam kafe. Membuat suasananya sendu dan damai. Hujan yang dari tadi aku lihat di pinggir jendela tak menunjukan tanda-tanda akan mereda. Malahan, jika aku boleh berasumsi hujan ini tak ingin reda. Langit ingin menangis lebih lama, lebih kencang.

Ponselku yang tergeletak di meja masih menyala dan terlihat  tombol digital warna merah dan hijau sebagai tanda bahwa ponsel ini menyala karena seseorang menelfon. Masih sama. Nama yang tertera adalah Meriva. Perempuan lucu berambut pendek, berkacamata, mungil, dan pasti selalu riang, yang sekarang kusebut masa lalu. Meski aku tak pernah ingin nama itu berlalu ke masa lalu. Membenamkan kenangan sepahit kopi hitam yang sengaja tak ku beri gula di depanku.

Hujan masih deras, kecipak airnya malah membuatku semakin tergusur menyandar di kursi kafe ini. Tanganku seolah merapalkan doa, tapi sebenarnya aku sedang ingin menutup diri dari realita. Aku tak ingin mengakui bahwa orang yang paling aku nanti pergi karena kebodohanku sendiri. Senyumnya masih terpahat jelas ketika ku tatap jendela, refleksi diriku menjelma menjadi seutuhnya dia. Mungkin aku harus berubah menjadi tanah, menyanggupi kesiapan untuk menerima hal yang tak bisa dicegah.

Aku masih.....

***

 “Mas, ada yang kosong?”
Tiba-tiba ada seorang cowok dan cewek yang memecah konsentrasi gue baca postingan blog sendiri.

“Kebetulan nomor 20 kosong mas, tadi baru aja dipakai.”

Cowok ini memakai kacamata, putih, tinggi yang kalau gue jadi cewek pasti langsung basah (karena keringetan). Mungkin mereka mau mengerjakan tugas bareng yah. #PositiveThinking

Kehidupan menjadi seorang penjaga warnet itu gampang-gampang susah. Kadang kita nemu pelanggan yang cerewetnya minta ampun. Atau anak-anak yang tiba-tiba karokean lagunya Justin Bieber, yang bikin gue jadi ikut nyanyi. Beberapa hal aneh itu tapi masih kalah aneh dengan kejadian yang baru-baru ini muncul. Kejadian ini gue sebut, Nomor Dua Puluh. Udah beberapa hari ini banyak pelanggan yang sangat keasyikan dengan nomor dua puluh sampai-sampai walaupun komputer yang lain kosong, dan nomor dua puluh ada pelanggan yang pakai, dia rela nunggu berjam-jam. Padahal gue dulu selalu menyarankan nomor dua puluh karena memang waktu itu masih baru. Tapi sekarang beberapa komputer sebenarnya udah gue ganti juga yang baru. Nomor 15, 7, dan 11. Oh ya, bahkan sampai suatu hari ada orang yang nawar untuk beli komputer nomor dua puluh. Gue bengong. Memang sih, dengan beberapa pelanggan tetap yang datang ke nomor dua puluh jadi keuntungan tersendiri buat gue karena tentu saja pendapatan bertambah.


“Mas, tadi jadi total berapa?”

Cowok yang memakai kacamata, putih, tinggi, yang kalau gue jadi cewek pasti langsung basah (karena keringetan) bersama ceweknya tadi ternyata sudah selesai dan bersiap untuk membayar.

“Jadi totalnya....”

Belum sempat gue menyelesaikan kalimat gue, tiba-tiba di depan pintu udah ada cowok lumayan kekar melotot ke arah cowok dan cewek ini. Gue bengong.

“Oh, jadi begini ternyata kamu. Tadi bilangnya mau ke mall nganterin nyokap belanja, ternyata malah ke sini sama dia.”

Cowok kekar tadi tiba-tiba nyolot dengan tangan bersedekap ke dada. Wah, kayaknya cewek ini selingkuh nih. Bisa rame nih kalau keterusan. Tapi biarin dulu deh.

“CEWEK INI SIAPA?”

*DHEG* Gue bengong lagi. Kenapa dia malah nanya cewek ini siapa? Kenapaaa?

“Rendy, aku bisa jelasin dulu.” Cowok yang memakai kacamata melepas gandengan ceweknya dan nyamperin si cowok kekar untuk mengajaknya keluar dari warnet gue.

“Nih mas, uangnya. Ambil aja kembaliannya.”

Cewek tadi ngasih uang dan langsung nyusul kedua cowok itu. Gue sedikit-sedikit akhirnya nguping karena penasaran.

“Ren, dia itu cuma temen aku. Kami lagi ngerjain tugas bareng kok. Soalnya laptop aku rusak belum dibenerin.” Cowok berkacamata berusaha memegang pundak cowok yang kekar tapi dia menghindar.

“Cukup ya Rio. Tadi kamu bilangnya mau nganterin nyokap belanja.”

Oke, cowok berkacamata itu bernama Rio, dan cowok kekar tadi bernama Rendy. Lalu, SIAPA CEWEK ITU? Gue makin penasaran.

“Rio, aku nggak nyangka yah kamu setega ini..” si cewek berkata setengah menahan tangis.

“Tunggu Nad..”

Cewek itu langsung lari meninggalkan mereka berdua. Lalu, Rio dan Rendy juga pindah ke depan gerbang masuk warnet gue. Gue yang nggak bisa meninggalkan singgah sanah operator, akhirnya harus rela dihujani penasaran atas cerita mereka. “Yah, ketinggalan cerita seru..” gumam gue. Tapi nggak berselang lama, tukang parkir yang biasa gue panggil “Bang T-J” dateng nyamperin ke gue. Bang T-J juga kadang gantian ngejaga operator kalo gue mau ke toilet atau hal mendadak lainnya, dia kisaran umur 30’an gitu. Ngomong-ngomong, nama Bang T-J itu berasal dari nama aslinya, Bang Tarjo. Biar keren aja.

“Mas, tadi aku denger obrolan yang 2 cowok 1 cewek itu loh..” cerita Bang T-J dengan semangat.

“Wah, wah. Gimana tuh bang?” gue nggak kalah semangat.

“Jadi singkat cerita, itu cowok sebenernya pacarnya cowok juga. Terus ceweknya itu cuma jadi tameng buat cowok yang pake kacamata itu supaya nggak dibully sama temen-temennya karena dia gay.” Bang T-J mulai berorasi.

“Wah. Bisa gitu yah bang.”

“Iya mas, yaudah saya ke depan lagi ya..”


***

 Waktu menunjukan pukul 2 pagi. Tiba-tiba pintu kamar yang masih satu tempat dengan warnet gue digedor-gedor sama operator warnet yang bertugas untuk jaga malam, bernama Rian. Setelah kucek-kucek mata dan ngulet-ngulet, akhirnya gue loncat dan pergi ke arah dia.

“Ada apa ada apa? Kenapa panik banget?” tanya gue yang masih kucek-kucek mata.

“ADA MALING!”
***








Ini ----> episode pertamanya.

1 komentar:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]