#LingkarTulisan "Nomor Dua Puluh" [6]

@romiyooo / Jumat, 01 April 2016





“Gue beri nama ini, Makhluk Penunggu Warnet...” Gue mulai bercerita.

“Hah?”

“Jadi, malem itu gue udah bersiap untuk menutup warnet ini, karena 2 hari besoknya adalah hari raya, maka warnet akan tutup...” Gue berhenti sejenak, menghela napas karena akan menceritakan sesuatu yang teramat menakutkan. Gue ambil teh depan gue dan melanjutkan “Semua udah sepi, pintu udah gue tutup, lampu udah sebagian gue matiin, cuma lampu depan warnet yang gue sisain buat nyala,” gue diem bentar karena belum apa-apa bulu kuduk gue merinding.

“Terus terus?”

“Gue berdiri di depan pintu warnet, mengingat-ngingat lagi apa yang belum gue periksa. Gue periksa-periksa lagi semua kunci yang ada di tangan gue. Gue bersiap untuk mengunci pintu terakhir itu, tapi....” Gue mulai menyeruput teh.

“Apa? APA? TAPI APA???”

“Tapi tiba-tiba, seluruh lampu di dalam warnet, nyala lagi. Gue terpatung, gue nahan napas, gue pipis di celana. Gue nggak berani tengok kanan atau kiri, gue natap lurus ke depan. Ke pintu berwarna hitam,” Gue menaruh cangkir teh kembali ke meja dengan sedikit bergetar, membayangkan kejadian itu.

“LALUUUU??”

“Masih terpatung, dengan tangan gemetar, guemencoba berpikir positif. Gue tarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan sambil merem. Belum sempat gue membuka mata, terdengar suara “Ceklek...” Gue langsung buka mata, mengira-ngira apa yang bunyi itu? Tikus kah? Kucing? Atau jangan-jangan.....”

“JANGAN JANGAN APA? MALING?”

“....atau jangan-jangan itu adalah suara, suara, suara dengarkanlah aku~ apa kabarnya~ pujaan hatiku~” Gue mendendangkan lagu Hijau Daun, lalu dikeplak.

“SERIUSAN IH!”

“Oke, iya iya. Terus gue beranikan diri memerhatikan sekitar, nggak ada apa-apa. Dan..... “Ceklek” suara itu ada lagi, pas gue tengok ke bawah, ternyata gagang pintunya, BERGERAK!” Gue sedikit berteriak saat ngomong bergerak, supaya mendramatisir.

“HAHHHHHH?”

“Perlahan tapi pasti, gagang pintu itu bergerak seperti mencoba membuka pintu tersebut, gue mundur perlahan. Gue mempersiapkan dua hal; kalau ini maling, gue akan nonjok langsung, kalau ini sesuatu yang lain, gue bersiap lari....”

“IIIHHH KAMU CEMEN!”

“Daripada gue pingsan, terus dibawa ke kahyangan dan akhirnya dipaksa menikah dengan makhluk itu. Lalu kami mempunyai keluarga bahagia, dan hidup dengan sejahtera?” Gue nyerocos aja.

“BODO! LANJUTIN!”

“Kemudian, “Ceklek” pintu itu perlahan-lahan mulai kebuka. Bunyi “ngiiikkkk” khas film horor mulai terdengar. Gue rasanya mau nangis aja waktu itu,” Gue ambil lagi teh buat nenangin diri.

“HAHAHAHAA!”

“Pas pintunya kebuka, nggak ada apa-apa. Gue terpatung lagi. Gue liat dalem warnet gue, nggak ada apa-apa. Tapi, semua komputer tiba-tiba menyala. Membunyikan ringtone “Deng deng deng deng..” Gue menirukan nada boot ala Windows.

“IIIIH AKU JADI MERINDING!”

“Kemudian, tiba-tiba terdengar suara aneh nggak tau dari mana asalnya,” Gue bercerita bisik-bisik supaya lebih dramatis.

“SUARA APA LAGI? AWAS AJA KALO SUARA DENGARKANLAH AKU!”

“HAHAHAHAH”

“MALAH KETAWA”

“Oke, jadi gue nggak tau suara itu dari mana, tapi lama kelamaan semakin kenceng. Suara itu seperti membisikan sesuatu. Sesuatu yang menyeramkan, sesuatu yang gue takutkan,” Gue menggeletakan cangkir teh gue lagi.

“Aku takut beneran nihhhh... :(“

“Suara itu semakin kenceng, dan terdengar jelas banget, suara itu berbunyi.... “BANGUN OY NALDO, UDAH SIANG NIH!” APRIL MOP! HAHAHAHAHA!” Gue mulai ambil ancang-ancang buat kabur.

“BELUM PERNAH DILEMPAR MEJA KAFE YAH?”

Gue pun dicubit, dikeplak, dijewer sama dia.

Dia; Meriva. Entah kenapa tanggal 1 April ini mengingatkan gue ke kejadian tadi. Adegan paling gue suka, duduk berdua bersama Meriva menceritakan segala hal penting dan gak penting agar waktu kita habis untuk berdua. Gue masih terlalu rindu suara kesel dia, suara tawa dia, dan tentu aja, senyum khas dia yang selalu membuat gue ikut tersenyum. Semua adegan demi adegan yang pernah gue lakukan bersama Meriva terasa diputar ulang di kepala gue. Gue masih inget banget kalimat dia saat pertama kali gue dan dia mengucapkan kata cinta bersama, “Jika suatu hari nanti kita tidak saling mencinta, aku harap itu adalah hari berpura-pura sedunia, dan kita sedang berpura-pura saja...”
Gue masih ngeliat layar komputer yang menampilkan potongan-potongan adegan gue bersama dia. Ketika kita memanjat gunung bersama, ketika kita ke pantai bersama, dan lainnya.

“Lagi galau ya?”

Lamunan gue akan Meriva tiba-tiba terpotong oleh suara cempreng yang padahal dia ngomongnya pelan. Suara itu berasal dari perempuan bernama Nana, yang ternyata kita udah kenal dari zaman kuliah, dan bertemu beberapa waktu lalu di warnet gue ini. Dunia sungguh sempit.

“Apaansih, mau april mop ya?” Gue mulai mengalihkan perhatian.

“Hahaha, lo itu orang periang, dan tiba-tiba diem natap layar komputer, pasti ada yang dipikirin. Galau? Atau jangan-jangan.....” Nana memotong kalimatnya.

“Jangan jangan?”

“Jangan jangan lo lagi nonton begituan yaaah? Hahahaha” Dia ketawa, dan cempreng.

“Anjir. Udah sanah masuk pilih komputer sendiri...”

“Ah, gue ke sini nggak mau main komputer kok,”

“Lah terus?”

“Gue mau nanya sesuatu,” Raut muka Nana berubah menjadi serius.

“Nanya apa?” Karena gue orangnya penasaranan banget, maka gue langsung nanggepin dengan serius juga.

Nana mengeluarkan handphone-nya, mengetik-ngetik, lalu dia nyodorin ke muka gue “INI BLOG ELO?” Dia teriak, tetep dengan ceemprengnya.

“HAHAHAHA”

“JAWAB!”

“Iyaaaa, kenapa? Alay ya? Jelek tulisannya ya?”

“Tulisan lo bagus, eh nggak maksud gue tulisan lo biasa aja, cuma gue penasaran sama pemilik blog ini aja sih. Tiap hari gue baca masaaaa,” Mata Nana menunduk, kakinya bergoyang, bibir bawahnya digigit. Ini adalah tanda-tanda wanita sedang malu.

“Wah, makasih yah. Ternyata gue punya fans. Besok bikin fanbase ah. Lo mau jadi ketuanya nggak, Na? Hahaha”

“BODO AMAT LAH, NALDO!”

“By the way,”

“Nggak usah sok inggris lo ah,” Nana memotong omongan gue.

“Hahaha, oke oke. Ngomong ngomong, lo ke sini cuma mau nanya itu?”

“Nggak sih, gue mau pamitan,”

“Pamitan?” Gue melongo.

“Iya, sama nomor dua puluh,”

“Nomor dua puluh?” Gue melongo.

“Iya, soalnya.... Bentar, lo bisa nggak sih nggak usah melong gitu?” Nana mengeluarkan kecemprengannya, kali ini 3x lipat lebih cempreng dari biasanya.

“Hahaha, maap maap,”

“Iya, soalnya kan hampir tiap hari gue kan di nomor dua puluh. Gue nulis, gue nyari sesuatu, gue makan, gue minum, gue apapun di situ,”

“Lo nggak punya rumah ya?”

“BUKAN GITU! Gue cuma nyaman aja di sana. Nggak tau kenapa,” Raut muka dia berubah menjadi bimbang.

“Oke, oke. Terus emang lo mau pamitan ke mana?” Tanya gue.

“Jadi, hmmmm. Beberapa hari yang lalu, pas kita pertama ketemu di sini lo masih inget kan? Yang gue terburu-buru banget itu? Yang gue‑‑”

“Iya, iya, gue inget,” Gue memotong kalimat dia sebelum suara cemprengnya memecahkan kaca-kaca yang ada di sini.

“Nah, bokap gue yang nggak pernah gue tau, yang pas pertama kali gue lahir udah ninggalin gue dan nyokap gue, beliau meninggal,”

“I’m sorry to hear that, Na,”

“Gue dan nyokap gue udah memutuskan untuk pindah, karena ternyata bokap gue yang belum pernah gue lihat itu, ngasih sebuah warisan. Warisan dia satu-satunya, katanya sih gitu,” Mata Nana mulai berkaca-kaca tapi dia tahan dengan memincingkan matanya.

“Waw, warisannya rumah? Di mana?” Gue malah penasaran.

“Bukan, gue sendiri belum tau kok. Baru diceritain sama nyokap gue,”

“Oke,”

“Yaudah, gue mau pamitan sama nomor dua puluh ya,”

Nana melangkahkan kakinya, belum sempat 2 langkah, gue taha dia.

“Tunggu, Na,”

“Kenapa?”

“Tapi,”

“Tapi kenapa?”

“Nomor dua puluh, udah ganti komputer.”

0 Komentar... Mau menambahkan komentar?

Berikan Komentar Anda:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]