#LingkarTulisan "Nomor Dua Puluh" [8]

@romiyooo / Jumat, 08 April 2016



Warnet yang gue bangun ini ternyata sebentar lagi mau tutup, karena sewa tempat yang murah di sini akan diambil alih oleh ahli waris sang pemilik. Artinya, gue mau gak mau harus pindah atau tutup aja warnet ini. Gue nggak mungkin pindah karena harus nyari tempat yang pasti akan mahal banget, sedangkan budget dan lain-lain nggak bisa nutup itu semua. Sedangkan gue punya hutang yang banyak banget dari beberapa penagih hutang. Sebenarnya bukan hutang gue, tapi hutang Ibu gue yang sekarang sudah kabur entah ke mana. Ayah gue? Gue sendiri dari lahir nggak pernah lihat beliau, tapi kata Ibu gue, beliau masih hidup. Entahlah..

Banyak hal yang harus gue pikirin setelahnya. Bagaimana nasib gue nanti, bagaimana gue bilang ke Rian dan bang T-J, bagaimana dengan komputer-komputer yang ada, bagaimana dengan pelanggan setia gue, dan lain sebagainya. Gue kayak kehilangan kehidupan gue untuk kedua kalinya, setelah kehilangan Meriva adalah kehilangan yang pertama. Dan sekarang yang harus gue lakukan adalah ngobrol sama Rian dan bang T-J soal ini, dan ini adalah hal yang berat. Pagi ini yang biasanya gue udah bersemangat tapi harus mikirin bagaimana Rian yang masih kuliah dan bang T-J yang pendidikannya kurang harus mencari pekerjaan lainnya. Rian yang biasanya datang ke warnet ini hanya malam hari, terpaksa harus gue minta untuk dateng pagi ini, jam 8. Sedangkan bang T-J sudah nyeruput kopi hitam di kursi depan warnet.

“Gimana ya cara ngomongnya...” gue masih bingung harus mulai omongan ini dengan apa sama mereka berdua.

“Ada apa emang bos?” Bang T-J masih nyeruput kopinya.

“Join kopinya dulu dong bang,” gue malah tiba-tiba pengin ngopi ngeliat betapa nikmatnya bang T-J nyeruput kopi. Kemudian menyalakan sebatang rokok Marlboro putih, dan menghisapnya dalam-dalam.

“Kenapa sih, Do? Ada hal penting?” Tanya Rian.

“Jadi gini, warnet ini akan gue tutup,” Gue menghela napas panjang.

“Hah??” bang T-J muncratin kopinya.

“Aduh bang, ini kenapa muncrat ke gue kopinya???” Rian kena muncratan kopi yang sudah tercampur radiasi mulut bang-TJ.

“Hehehe, maaf bos maaf,” Bang T-J hanya mampu berucap maaf sambil mencoba membersihkan cipratan kopi di celana Rian yang sekarang sudah terkontaminasi. Untung gue lagi berdiri jadi sigap menghindari muncratan berbahaya itu.

“Oke oke, emang kenapa Do kok sampe tutup? Kita rugi? Atau ada apa?” Rian sudah mulai tenang, dan kelihatannya masih baik-baik aja walaupun gue yakin cipratan kopi itu udah meresap ke paha dia.

“Jadi, gue dapet kabar dari Pak Ben. Dia bilang, semua kios di sekitar sini akan diambil alih oleh ahli waris Pak Kartono yang baru meninggal. Gue sih penginnya pindah. Tapi budget gue nggak memungkinkan itu semua. Jadinya, gue berpikir untuk menjual semua aset warnet ini dan mungkin akan nyari kerjaan lain,” Gue mengatakan semua itu dengan sangat berat.

“Huhuhuhu,” Bang T-J tiba-tiba nangis.

“Nggak usah nangis bang, gue akan tetap kasih pesangon kok,” gue mencoba menenangkan beliau.

“Bukan gitu bos, kopi gue tumpah nih. Mana masih banyak lagi,” Bang T-J malah ngeributin kopinya yang ternyata tumpah nggak ketauan setelah dipindahin ke bawah kursi. Sialan.

“AH ELAH BANG!” Gue kesel.

“Huh, jadi sampe di sini aja nih Do? Gue padahal udah nyaman banget sih di sini,” Rian tampak sedih.

“Iya bro. Yah mau gimana lagi. Bukannya semua awal pasti punya akhir? Gue minta maaf banget nih ke kalian berdua,”

***

Sore ini gue beres-beres mulai hal-hal kecil dulu. Gue sekarang mempertimbangkan permintaan Nana yang ingin membeli komputer yang tadinya nomor dua puluh ini, yang sekarang gue namain dia Meriva. Iya, gue emang suka menamai barang-barang. Dan, karena komputer ini akan pergi dari hidup gue, maka gue akan menamai dia dengan nama yang sama. Oh ya, handphone gue bernama King, yang gue ambil dari anime One Punch Man. Karakter king di anime tersebut terlihat garang, padahal nggak bisa apa-apa. Gue namai printer yang ada di sini dengan Uncle. Selain karena udah tua, nama itu juga diambil dari film The Man from U.N.C.L.E, jadi gue namai itu. Gue suka menamai benda-benda karena gue orangnya cuek, jadi semoga dengan begitu, bisa bikin gue lebih peduli lagi untuk merawat mereka. 

Di saat-saat kayak gini, gue malah flashback tentang beberapa kehilangan yang telah gue alami. Kehilangan Ibu yang entah sekarang di mana, kehilangan Meriva, kehilangan pendidikan karena nggak bisa nerusin, kehilangan teman-teman yang sekarang mungkin udah sukses, dan lainnya. Gue selalu merasa bahwa kehilangan memang diperlukan dalam hidup, agar kita bisa lebih menghargai apa-apa saja yang akan kita dapati selanjutinya. Kehilangan memang selalu sulit, di awal. Tapi setelah kita mampu melewatinya, itu bisa menjadi pelajaran yang tak ternilai. Warnet ini salah satu kehilangan yang besar buat hidup gue. Gue tinggal di sini, mencari kehidupan baru di sini, mengenal orang-orang baru di sini, gue menjadi orang yang baru di sini. Tapi kayaknya gue harus menjadi hal baru lagi setelah ini, mungkin ini bertujuan agar gue bisa lebih bekerja lebih keras lagi.

“Do,” Tiba-tiba Rian merunyamkan lamunan gue.

“Kenapa?”

“Lo tau nggak, Nana yang biasanya dateng ke sini? Yang cempreng itu? Yang waktu itu sih dia bilang kalau pernah sekampus sama elo,” Rian bercerita tentang Nana.

“Iya, kenapa?” Gue penasaran.

“Sebenarnya, karena dia sering banget dateng ke sini pas shift gue, jadi kita banyak ngobrol,” Rian mulai merunutkan ceritanya.

“Oke, lanjut,”

“Nah, lama kelamaan, kita jadi deket. Kita bahkan tukeran nomor whatsapp. Intinya kita udah saling nyaman, sampe kemarin dia bilang mau pindah dari sini,” Raut muka Rian jadi sedih.

“Iya, kemarin siang dia dateng ke sini cerita begitu,” Gue makin penasaran.

“Jadi gini, sebenernya gue mulai suka sama dia, menurut lo gue harus tetep ngomong gue suka sama dia atau enggak yah?”

“Hah? Waaah, gokil. Kalo emang kalian udah sedeket itu, ya mending lo ngomong aja. Tapi kalo nantinya kalian jadian dan berpisah jauh, ya terima risikonya. Kalian. Akan. LDR. Hahahah..” Ini kenapa gue malah ketawa, padahal kan gue sama Meriva berpisah juga karena LDR.

“Lah, nanti gue jadi kayak elo dong ujung-ujungnya putus dan susah move on kayak sekarang. Hahaha. Tapi, kalo dipendem terus gue juga nggak mau sih, rasanya ada yang ngeganjel gitu,” Rian mukanya pengin gue tampol banget.

“Anjir lo! Ya mau gimana, lo harus terima konsekuensinya kalo lo ngomong dan kalo lo nggak ngomong,” Gue menyiapkan asbak untuk dilempar ke Rian.


“Iya sih... Yaudah deh, gue pikirin ini dulu sampe dia ngabarin kapan akan pindah, dan akan pindah ke mana,” Rian melengos pergi, gue gagal ngelempar asbak ke muka dia.

Hari ini benar-benar nggak produktif, gue cuma duduk nerima pelanggan, setelah itu beres-beres keperluan yang kecil-kecil dulu. Lalu malemya gue cuma nyiapin langganan internet yang akan gue putus sebulan lagi, nyari calon pembeli semua komputer ini kecuali si Meriva (nomor dua puluh), dan menghitung semua anggaran termasuk pesangon Rian dan bang T-J. Bahkan sekarang, lagi berbaring di kasur pun gue masih mikirin hal-hal ini, mau apa gue setelah ini, ngelamar pekerjaan? Dengan ijasah seadanya? Dengan kemampuan seadanya? Gue nggak tau harus apa. Gue hanya mampu memejamkan mata, berharap besok ada sebuah keajaiban. Yang walaupun gue sendiri nggak pernah percaya akan keajaiban. Menurut gue keajaiban hanyalah mitos, seperti kata “selamanya”. Keajaiban dan “selamanya” hanyalah mitos bagi gue.

***

Pagi ini gue membuka whatsapp dan beberapa calon pembeli komputer gue mulai menanggapi. Ada yang langsung setuju, ada yang pengin cuma beli 2 komputer aja, dan ada yang menawar dengan harga Afgan (sadis). Gue sih seneng, mulai membersihkan kompter ini satu per satu sebelum membuka warnet ini. Lumayan, beberapa hari sebelum ditutup warnet dibuka tetep rame dan bisa jadi tambahan uang. Tapi warnet ini jadi nggak buka 24 jam, karena jam 10 malam pasti gue tutup. Soalnya Rian udah mulai nyari job lain untuk tambahan uang kuliah dia. Bang T-J juga mulai gue cariin kerjaan baru, dia sih bilangnya mau jadi security. Jadi gue hubungi beberapa teman, dan dia hari ini ada 2 interview di Mall.

“NALDO....NALDO...” Terdengar teriakan cempreng yang nggak asing dari balik pintu warnet yang belum gue buka. “NALDOOOO LO DI DALEM NGGAK??” Yak, suara itu makin kenceng sembari diiringi gedoran pintu. “NALDOOOO BUKA IIIIHHHH...” Karena gue masih sayang telinga gue, gue buru-buru ngebuka pintu warnet ini, “BENTAR OOOY”. Belum gue buka suara itu kembali muncul “BURUAAAANNNN....”

“Ada apasih? Ah elah, ternyata elo! Kenapa ini pagi buta udah ke sini?” Gue bertanya dengan muka kesel.

“Gue punya kabar baik dan buruk. Yang berhubungan sama kita,” Nana mengejutkan gue dengan kata-katanya.

“Kita? Kenapa nggak elo aja sih sama bang T-J,” Gue masih kesel.

“GUE SERIUSSSS...” Nana berteriak.

“Ya udah, ke-“

“Eh, Nana, kok ada di sini?” Tiba-tiba Rian datang.


***


0 Komentar... Mau menambahkan komentar?

Berikan Komentar Anda:

Think Like a King - Act Like a Knight 2013 | Design by @romiyooo | Inspirasi emoticon :]